c115f8d0f85c7e61a48a7a6f352c5ae1.ppt
- Количество слайдов: 35
What is the Science of Psychology is the scientific study of human behavior and mental processes, encompassing not just what people do, but their biological activities, feelings, perceptions, memory, reasoning and thoughts.
Psychological Concept w PSYCHE & LOGOS w SCIENCE OF HUMAN BEHAVIOR – Scientific – Human – Behavior • Cognitive • Afective • Conative
KOMPONEN PERILAKU w KOGNITIF : KEYAKINAN, PENGETAHUAN, INFORMASI, FAKTA w AFEKTIF : SENANG/ TIDAK SENANG, SUKA / TIDAK SUKA ---EMOSI w KONATIF : KECENDERUNGAN UNTUK BERTINDAK
CARA-CARA MENGANALISIS PERILAKU w. OBSERVASI w. WAWANCARA w. SKALA PSIKOLOGIS / PSIKOTES
THE MAJOR SUBFIELDS of PSYCHOLOGY
Today’s Perspective
KONSEP PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA Ø SOCIAL / INTERPERSONAL INTERACTION Ø COOPERATION / CONFLICT (MISUNDERSTANDING) Ø SCIENCE / KNOWLEDGE COLLONIALISM Ø BIASED IN PSYCHOLOGICAL TESTING Ø UNIVERSALISM AND SPECIFIC
SPECIFIC AND UNIVERSALISM w RISET MALINOWSKI DI TROBRIAND ISLAND (PAPUA NEW GUINEA) TEORI OEDIPUS COMPLEX SIGMUND FREUD w RISET MARGARETH MEAD TENTANG STORM AND STRESS DI MASYARAKAT SAMOA w CULTURE-BOUND SYNDROME
w KONSTRUK/KONSEP w KOMPONEN / ASPEK / INDIKATOR w AITEM w KECERDASAN : INFORMAS, VOCAB, INGATAN, MATEMATIKA, LOGIKA, PENGETAHUAN,
w. Stereotype-kognitif w. Prejudice-afektif w. Discriminationkonatif
CONTOH INTERAKSI SOSIAL ATAU KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA w Ada 3 orang intelijen Israel yg terpojok dan akan mati dibantai musuh. Mereka memutuskan mati daripada dipegang musuh dan kemungkinan membocorkan rahasia. Namun bangsa Israel tidak punya tradisi harakiri, seperti prajurit Nippon, karena menganggap bahwa bunuh diri adalah dosa besar. Akhirnya mereka lakukan undian, siapa yang menang boleh meninggal terlebih dahulu oleh teman seperjuangannya. Intelijen terakhir terpaksa melepaskan nyawanya dengan alasan mematuhi aturan, bukan usaha bunuh diri, agar mereka bisa meninggal secara heroik.
Lanjutan. . komunikasi w Cara mengundi bisa menggunakan tangan, salah satunya ibu jari / jempol. w Jempol mengisyaratkan : – Jawa: simbol keperkasaan atau anak sulung yang menikmati hirarki tertinggi, sehingga selalu berdiri tegak manakala dipakai untuk mempersilahkan orang yang dihormati atau pejabat – Budaya Barat : menempati kedudukan istimewa, bila tegak menandakan hebat / ya, bila terjungkir ke bawah menunjukkan buruk / tidak – Bangsa Romawi, sebagai tanda Kaisar untuk menentukan hidup mati gladiator yg kalah – Eropa Barat & Turki (penelitian Morris et al di 40 negara & 1200 responden): 738 : OK, 40 : bilangan 1, 36 : pelecehan seksual (Italia Selatan, Sardinia, Yunani), 30 : liften, 14 : penunjuk arah, 24 : lain-lain, 318 : tak digunakan – Amerika : saat Perang Dunia digunakan untuk tanda siap memberangkatkan pesawat / tank
Perilaku Antri w Indonesia : aantreden (Belanda), berdiri berderet 2 utk masuk gedung atau mengambil ransum– cara meraih fasilitas atau prioritas (bukan “tindakan fisik menunggu fasilitas dan prioritas dengan sabar dan tertib). Hal ini berarti antri adalah pasif menunggu yg kurang efektif. Oleh karena itu orang cenderung menggunakan jalan pintas, sehingga gambaran dari keinginan menunjukkan kekuasaannya. w Barat : pelayanan sosial maupun negara, maka penjual (client) dan pembeli (patron), sehingga penjual harus memberikan banyak prioritas pada pembeli, namun tetap menjaga aturan main (keadilan dengan cara antri). Sebaliknya di indonesia, penjual adalah patron dan pembeli : klien, sehingga mengarahkan pada kasus korupsi
GERAKAN KEPALA w Saat perang melawan Turki (1877 -1878) tentara Rusia bekerjasama dengan bangsa Bulgaria. Namun demikian ada kendala bahasa verbal dan non-verbal yang bisa menimbulkan miskomunikasi. (ada kecenderungan org memandang lebih hebat tanda atau simbol oleh budaya mayoritas atau pemegang hegemoni politik). w Org Bulgaria menggunakan tanda telinga sebagai isyarat YES, Rusia : menggunakan kepala
Lanjutan Gerakan Kepala w Mayoritas : Menganggukkan kepala = ya, menyerahkan kepala pada orang yg dihormati w Mayoritas : menggelengkan kepala = tidak, anak yg menolak menyusu / minum w Ethiopia : memalingkan kepala ke satu sisi dan kembali ke normal = tidak w Eropa : menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri (keragu 2 an); Bengali, Iran, Turki, Yugoslavia (hati yang riang) w Yunani, Siprus, negara Arab, Sisilia: kepala mendongak, bergerak ke belakang kmd posisi normal(No secara emosional). Suku Maori, Tagalog dan dayak – bermakna YES yg dibarengi senyum
CROSS CULTURAL PSYCHOLOGY w w w Related Discipline ECOLOGY ANTHROPOLOGY SOCIOLOGY LINGUISTICS BIOLOGY (POPULATION LEVEL) w General Psychology w DEVELOPMENTAL w SOCIAL BEHAVIOR w PERSONALITY w COGNITION w PERCEPTION (INDIVIDUAL LEVEL)
TOPICS-1 w DEVELOPMENTAL – – Enculturation & Socialization Child-rearing Practices The Concepts of Development Infant Development
TOPIC 2 w SOCIAL BEHAVIOR – – – Cultural Context Conformity Values Individualism & Collectivism Gender Behavior
NILAI (Edward Spranger) w SOSIAL w EKONOMI w TEORITIS w POLITIK w ESTETIKA w RELIGIUS
TOPIC 3 w PERSONALITY – – – Traits across Cultures Affective Meaning Expressive Behavior Indigenous Personality Self & Consciousness
TOPIC 4 w COGNITION – – – The Historical Legacy Language & Thought General Intelligence Genetic Epistemology Specific Abilities Cognitive Styles
TOPIC 5 w PERCEPTION – – Sensory Functions Color : Coding & Categorization Perception of Patterns & Pictures Aesthetics
CULTURE DEFINITION A. Common Usages of the World Culture w w w Culture to mean race, nationality or ethnicity Culture to reflect trends in music or art Culture to refer to food or clothing Cultur refer to rituals, traditions & heritage Culture to mean many different things about people physical & biological characteristics, behaviors, music, dance & other activities B. Six general categories of cultures (Kroeber & Kluckhon, 1952; Berry, Portinga, Segall & Dasen, 1982) w w w Descriptive uses highlight the different types of activities or behaviors associated with a culture Historical definition refer to the heritage and tradition associated with a group of people Normative uses describe the rules and norms that are associated with a culture Psychological descriptions emphasize learning, problem solving, and other behavioral approaches associated with culture Structural definitions emphasize the societal or organizational elements of culture Genetic descriptions refer to the origins of a culture
CULTURE DEFINITION C. w w w w Eight Categories of Cultures (Barry, 1980; Berry et. al, 1992) General Characteristics Food & Clothing Housing & Technology Economy & Transportation Individual & Familiy Activities Community & Government Welfare, Religion & Science Sex & Life Cycle D. Matsumoto (1996) Described Two Aspects of Culture w Subjective Aspects: Behaviors, Beliefs, Attitudes, Values w Objective Aspects: Food, Clothing, Tools E. Culture as an Individual Construct & as a Social Construct
PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA DEFINISI & PENGERTIAN 1. Dharmayati Utoyo Lubis (1999) “ Cabang dari psikologi yg menguji batasan-batasan pengetahuan dgn mempelajari individu dari berbagai budaya yg berbeda” “ Dalam arti sempit, penelitian lintas budaya melibatkan partisipan dgn latar belakang budaya yg berbeda & mencari perbedaan-perbedaan yang mungkin diantara mereka” “ Dalam arti luas, psikologi lintas budaya berusaha mendapat pengertian apakah benar prinsip-prinsip psikologis tertentu itu universal sifatnya (hal itu terdapat pada semua individu dari semua budaya) atau culturespecific (benar bagi sebagian individu dari budaya tertentu saja” 2. Brislin, Lonner & Thorndike (1973) “Cross cultural psychology is the empirical study of members of various culture groups who have had different experiences that lead to predictable and significant differences in behavior. In the majority of such studies, the groups under study speak different languages & are governed by different political units”
Triandis (1980) “Cross cultural psychology is concerned with the systematic study of behavior and experience as it occurs in different cultures, is influenced by culture, or results in changes in existing culture” 4. Segall, Dasen, Berry & Portinga (1990) “Cross cultural psychology is the scientifict study of human behavior and its transmission, taking into account the ways in which behaviors are shaped and influenced by social and cultural forces” 5. Berry, Poortinga, Segall & Dasen (1995) “Cross cultural psychology is the study of similarities and differences in individual psychological functioning in various cultural & ethnic groups; of the relationship between psychological variables and socio-cultural, ecological and biological variables; and of current changes in these variables”
TUJUAN PSI LINTAS BUDAYA w Testing or extending the generalizability of existing theories & finding w Exploring other cultures in order to discover variations in behavior that may not be part of one’s own cultural experience w Integrating findings in such a way as to generate a more universal psychology applicable to a wider range of cultural settings and societies
BIDANG KAJIAN PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA w Peranan Kebudayaan pada Perilaku Manusia – Penelitian hugh Gordon w Pengujian Teori yang Dirumuskan dari Satu Kebudayaan pada Kebudayaan yang Lain – Tujuan: hukum perilaku yang universal – Konsep Storm & Stress – Konsep Pike Phonemik & Phonetik---Emik&Etik w KOMPARASI LINTAS BUDAYA w DINAMIKA LINTAS BUDAYA
BIDANG KAJIAN PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA w KOMPARASI LINTAS BUDAYA Mencari Persamaan & Perbedaan perilaku Memperlakukan secara adil dalam seleksi dan penempatan Pengaruh Kebudayaan pada variabel yang diukur Pengaruh Kebudayaan pada pengukuran Variabel—Kesesatan Pengukuran – Pengendalian – memilih materi tes yang adil – – w DINAMIKA LINTAS BUDAYA – Hubungan Timbal balik antara budaya satu dengan yang lain – Van Atta (1963) tentang perlombaan senjata dua negara adi kuasa – Mengenal budaya lain akan mengurangi kesalahpahaman
KONSEP ETIK DAN EMIK w Pike: phonemic & phonetic w Etik : temuan yg tampak konsisten di berbagai budaya, kebenaran/prinsip yg universal w Emik : temuan yg berbeda utk budaya yg berbeda – culture-specific
ISU-ISU UTAMA DALAM METODOLOGI PENELITIAN LINTAS BUDAYA 1. Definisi Budaya Secara Operasional w w w Kesulitan dalam mendefinisikan dan mengukur budaya Kebanyakan psikolog lintas budaya mendefinisikan budaya sebagai konglomerasi sikap, nilai, perilaku dan beliefs yang dikomunikasikan dari suatu generasi ke generasi berikutnya melalui bahasa Banyaknya definisi didasarkan pada hal yang sifatnya sosiopsikologis dan aspek manusia yang mudah diukur seperti ras (Cina, Eropa, dsb) 2. Keabsahan Sampling w 3. Perlu memastikan bahwa partisipan penelitiannya cukup mewakili budayanya, mis: penelitian 100 remaja Indonesia apakah mewakili budaya Indonesia keseluruhan Ekuivalensi Lintas Budaya Sampel tdk hanya representatif namun juga setara bila akan dibandingkan, misalnya : kelas sosial ekonomi, tingkat pendidikan, pengalaman sosial
ISU METODOLOGI LINTAS BUDAYA 4. Rumusan pertanyaan penelitian & penafsiran data Peneliti yg mengkaji problem solving atr USA & suku Afrika, menggunakan metode pemberian uang. 5. Bahasa & Terjemahan Harus ada prosedur back-translation biar ada kesamaan persepsi
ISU METODOLOGI LINTAS BUDAYA 6. Lingkungan penelitian Subjek dr budaya Barat lebih terbiasa di lab drpd Asia 7. Response set mrp kecenderungan kultural utk memberi respon dengan cara 2 ttt thd tes atau skala respon yg lbh mrp cermin dr kecenderungan kultural dan bukan makna yg sebenarnya
APLIKASI PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA 1. w w 2. w w 3. w 4. w Stereotype Suatu kategori kognitif yang dibutuhkan untuk membawa keteraturan dalam perbedaan. Setelah itu akan muncul pengkategorian generalisasi tertentu tentang kelompok lain Masalah terjadi bila ada overgeneralisasi dan penilaian negatif pada kelompok lain Sikap Ciri masyarakat pluralistik adalah adanya sikap etnis diantara anggota ingroup dan outgroup Sikap etnis diteliti untuk mendapatkan gambaran derajat stereotipe kelompok lain Identitas Etnis Tajfel (1978) mendefinisikan sebagai bagian konsep diri individu yang diperoleh dari pengetahuan tentang keanggotaannya dalam suatu kelompok sosial Isu Bahasa Bagi banyak orang hilangnya suatu bahasa sama saja dgn hilangnya budaya (Berry dkk, 1995)


