4025a786524866ac0bd4ecaeb7eca395.ppt
- Количество слайдов: 45
TRAINING FOR TRAINERS KEBANKSENTRALAN MATERI : KEBIJAKAN MONETER II
Tinjauan Instruksional Khusus • Mampu menjelaskan kebijakan nilai tukar dan devisa • Menguasai kebijakan sasaran inflasi (inflation targetting) 2
Pokok Bahasan I. Kebijakan Moneter dgn sasaran kestabilan harga: menuju inflation targeting Ø Kerangka Dasar Inflation Targeting Ø Menuju Penerapan Inflation Targeting di Indonesia II. Kebijakan Moneter dan Perekonomian Terbuka Ø Kebijakan Moneter dan Kebijakan ekonomi makro lainnya Ø Perekonomian terbuka dan Kebijakan Moneter III. Kebijakan Nilai Tukar dan Devisa Ø Kebijakan Nilai Tukar Ø Kebijakan Devisa 3
Inflation Targeting Framework: Key Elements Latar belakang : 1. Beberapa studi BI menyimpulkan strategi keb. moneter a/d pengendalian uang beredar semakin sulit diandalkan -> merenggangnya hub. bes. moneter dengan var. ekonomi riil. 2. Berlakunya UU No. 3 th. 2004 (UU No. 23 th. 1999) ttg Bank Sentral - Tujuan BI : fokus pada pencapaian & pemeliharaan kestabilan Rp. 3. Semakin banyak diterapkan sebagai kerangka kebijakan moneter di berbagai bank sentral (42 negara). § Negara maju: Kanada (1991), Israel (1991), Inggris (1992), Swedia (1993), Finlandia (1993), Australia (1993), Spanyol (1994). § Emerging economies: Amerika Latin (a. l. Chili, Meksiko, Brazil), Eropa Timur (a. l. Polandia, Check Republik), Asia (Korea Selatan, Thailand, Philipina dan Indonesia). 4
Inflation Targeting Framework: Key Elements Mengapa Kestabilan Rupiah? 1. Dengan output ditentukan kapasitas ekonomi dalam jangka panjang maka segala kebijakan yang mendorong pertumbuhan ekonomi akan menciptakan inflasi (the short-run Phillips-curve) sehingga tidak akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi riil (Kydland Prescott, 1977). 2. Rational economic agent mengerti bahwa tindakan kejutan pembuat kebijakan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang mendorong inflasi dapat mendorong terjadinya permasalahan time-consistency (Barro and Gordon, 1983). 3. kestabilan harga dapat mendorong terciptanya iklim ekonomi yang lebih baik karena akan mengurangi biaya yang berasal dari inflasi. 4. Kebijakan moneter mempengaruhi variabel ekonomi memakan waktu panjang dan mempunyai lag (Friedman, 1968). 5. Inflasi menurunkan daya beli, terutama oleh masyarakat miskin yang tidak memiliki tabungan untuk meng-hedge inflasi. 5
Inflation Targeting Framework: Key Elements Pengertian dan Karakteristik ITF § Inflation Targeting Framework (ITF) merupakan kerangka kerja kebijakan moneter yang secara transparan dan konsisten diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi beberapa tahun ke depan yang secara eksplisit ditetapkan diumumkan. § Empat prinsip pokok rezim kebijakan moneter dengan ITF: 1. Memiliki sasaran utama, yaitu Sasaran Inflasi, yang dijadikan sebagai prioritas pencapaian (overriding objective) dan acuan (nominal anchor) kebijakan moneter. 2. Bersifat antisipatif (preemptive atau forward looking) dengan mengarahkan respon kebijakan moneter saat ini untuk pencapaian sasaran inflasi ke depan. 3. Mendasarkan pada analisis, prakiraan, dan kaidah kebijakan tertentu dalam menetapkan pertimbangan respon kebijakan moneter (constrained discretion). 4. Sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola yang sehat (good governance), yaitu berkejelasan tujuan, konsisten, transparan, dan berakuntabilitas. 6
Inflation Targeting Framework: Key Elements § Secara rinci karakteristik Inflation Targeting Framework sbb: Kriteria Bernanke et. al. (1999) Svensson (2000) 1 Kestabilan harga sbg tujuan akhir kebijakan moneter Ya Ya 2 Pengumuman target inflasi Ya Ya 3 Target inflasi jangka menengah Tidak jelas Ya 4 Komunikasi intensip dg publik Ya Ya 5 Penggunaan monetary policy rule secara spesifik Tidak jelas Penargetan prakiraan inflasi Tidak perlu Ya Ya, ttp tidak disebutkan scr jelas 6 7 8 Publikasi prakiraan inflasi dan output Target ditetapkan pemerintah (goal dependence) Penggunaan instrumen scr independen (instrument independent) 7
Inflation Targeting Framework: Key Elements Bank sentral secara eksplisit memiliki target inflasi dan berjanji untuk mencapai target tsb pada suatu periode waktu tertentu (time horizon). BS melakukan forecast inflasi dng semua informasi yang ada. BS menggunakan instrumen kebijakan moneter untuk mencapai target inflasi tersebut. Jika forecast inflasi berbeda dng target inflasi BS melakukan perubahan ‘stance’ kebijakan moneter (umumnya menggunakan Taylor’s type rule): r = rt-1 + ( - *) + (y-y*); , >0 • • Jika gagal mencapai target, harus menjelaskan ke publik. BS memberikan laporan secara regular kpd publik mengenai outlook inflasi dan kebijakan yang diambil. 8
Manfaat Penerapan ITF 1. Kebijakan moneter lebih terfokus, 2. Komunikasi, transparansi, dan akuntabilitas diperkuat, 3. Membantu dalam menurunkan/mengarahkan ekspektasi inflasi dan lebih baik dalam mengatasi kejutan inflasi, 4. Membantu dalam menurunkan volatilitas output dalam jangka menengah, 5. Teruji dalam menghadapi kejutan ekonomi yang kurang menguntungkan, 6. Relatif fleksibel dalam mengakomodasi kejutan inflasi temporer yang tidak mengganggu pencapaian sasaran inflasi jangka menengah, dan 7. Sejalan dengan independensi bank sentral dalam melaksanakan kebijakan moneter. 9
Syarat implementasi IT [ Bank sentral yang independen (minimal “instrument independence”). [ Komitmen untuk mencapai kestabilan harga. [ Tidak ada dominansi fiskal, sistem keuangan yang kuat. [ Transparansi dan akuntabilitas. [ Tidak ada ‘anchor’ yang lain (exchange rate harus fleksibel/floating). [ Kebijakan Moneter yang bersifat “forward looking” [ Kemampuan Operasional: Ø Kemampuan dalam forecast inflasi Ø Pemahaman transmisi kebijakan moneter Ø Prosedur operasional kebijakan moneter 10
Mengapa Inflation Targeting …? Ø Mengapa bukan framework lain (exchange rate atau monetary targeting)? - Terkait dng pilihan regim nilai tukar. - Karena flexible exchange rate, pilihannya antara monetary targeting vs inflation targeting. Ø IT fokus pada kestabilan harga (sehingga dapat digunakan sbg ‘anchor’ ekspektasi inflasi bagi masyarakat). Ø IT meningkatkan transparansi keb. Moneter. Ø IT memberikan ukuran keberhasilan bank sentral (kejelasan akuntabilitas). Ø IT bersifat forward looking dan memperhitungkan lag kebijakan moneter. Ø IT tidak memerlukan asumsi stabilitas hubungan uang beredar, output dan harga. Ø Pengalaman negara-negara lain yang menerapkan IT menunjukkan dengan inflasi yang rendah dan stabil, pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang lebih sustainable. 11
Faktor – faktor lain yang terkait dengan ITF Ø Inflasi tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan moneter Ø Kebijakan pemerintah di bidang harga dapat berdampak terhadap inflasi : perubahan harga BBM, Upah minimum, tarif listrik, gangguan produksi dan distribusi barang Ø Sistem keuangan yang sehat 12
Konsep Dasar Kebijakan Moneter dg Kerangka ITF • Sasaran Inflasi Ø Penetapan sasaran inflasi oleh Pemerintah/Bank Sentral dengan mempertimbangkan trade off dengan pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja Ø Target inflasi ditetapkan jangka menengah dan panjang (time horizon) 13
Konsep Dasar Kebijakan Moneter dg Kerangka ITF • Kebijakan moneter mengarah ke depan Ø Bersifat antisipatif ke depan karena adanya tenggang waktu dari pengaruh kebijakan moneter terhadap inflasi Ø Memperkirakan pergerakan inflasi ke depan vs sasaran yg ditetapkan Ø Mengetahui transmisi kebijakan moneter dalam mempengaruhi inflasi dan perekonomian 14
Konsep Dasar Kebijakan Moneter dg Kerangka IT • Transparansi Ø Untuk menunjukkan komitmen bank sentral dalam mengatasi inflasi dan Ø • Akuntabilitas dan kredibilitas Ø Akuntabilitas bank sentral akan mempengaruhi kredibilitas Ø Butuh SDM yang handal Ø Koordinasi dengan pemerintah dan instansi terkait perlu karena sumber inflasi bermacam-macam 15
Kerangka Kerja Kebijakan Moneter Indonesia s/d Juli 2005: Inflation Targeting Lite § Sejak tahun 2000, dengan diberlakukannya UU No. 23 Tahun 1999 BI telah menentukan dan mengumumkan sasaran inflasi sebagai sasaran akhir kebijakan moneter. § Dengan amandemen UU Bank Indonesia No. 3 Tahun 2004, Pemerintah setelah berkoordinasi dengan Bank Indonesia telah menetapkan dan mengumumkan sasaran inflasi IHK untuk tahun 2005, 2006, dan 2007. BI telah menempuh sejumlah langkah dalam memperkuat persyaratan untuk penerapan ITF, termasuk: § Pengembangan indikator, riset, pemodelan ekonomi untuk dasar analisis, prakiraan, dan perumusan kebijakan. § Rapat Dewan Gubernur (RDG) sebagai proses perumusankebijakan moneter. § Pengembangan laporan dan strategi komunikasi untuk transparansi dan akuntabilitas kebijakan moneter kepada publik. 16 §
Kerangka Kerja Kebijakan Moneter Indonesia s/d Juli 2005: Inflation Targeting Lite § Sebelum Juli 2005, operasi moneter masih menggunakan uang primer (base money) sebagai sasaran operasional. Cara ini dirasakan semakin tidak sejalan dengan penerapan kebijakan moneter dengan ITF, terutama karena: 1. Hubungan antara uang primer dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi semakin tidak stabil dan mengalami hubungan terbalik. 2. Sinyal kebijakan moneter kepada pasar dan masyarakat kurang efektif, 3. Respon kebijakan moneter cenderung mengarah ke belakang (backward looking) dan lebih sulit dilakukan. 4. Uang primer lebih sulit dikendalikan oleh bank sentral karena perilaku permintaan uang kartal masyarakat di Indonesia. § Dalam literature, Indonesia dikategorikan sebagai negara yang menerapkan Inflation Targeting Lite. 17
Kerangka Kerja Baru Kebijakan Moneter Indonesia: Empat Langkah Penguatan Kebijakan Moneter Melalui ITF § Empat elemen mendasar dalam langkah-langkah penguatan kerangka kerja kebijakan moneter yang baru mulai Juli 2005 agar konsisten dengan penerapan ITF: 1. Penggunaan suku bunga (disebut BI Rate) sebagai reference rate dalam Rate pengendalian moneter, sebagai pengganti sasaran operasional uang primer. 2. Penguatan proses perumusan kebijakan moneter dengan strategi antisipatif (forward looking strategy) dalam mengarahkan respon kebijakan moneter saat ini untuk pencapaian sasaran inflasi ke depan. 3. Strategi komunikasi yang lebih transparan untuk memperkuat sinyal kebijakan moneter kepada pasar dan upaya pembentukan ekspektasi inflasi. 4. Penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah untuk meminimalkan tekanan inflasi dari kenaikan administered prices dan volatile foods maupun untuk sinergi kebijakan ekonomi secara keseluruhan. 18
Inflation Targeting: “A Framework, Not A Rule” OPERASI MONETER RESPON KEBIJAKAN INSTRUMEN MONETER BI RATE • Manajemen Likuiditas • Koridor suku bunga • Struktur suku bunga + • Stabilisasi nilai tukar • Kebijakan moneter lain • Kebijakan perbankan + Koordinasi Pemerintah KOMUNIKASI KEBIJAKAN • Komitmen & Konsistensi • Pembentukan ekspektasi INDIKATOR KEBIJAKAN PRAKIRAAN INFLASI PERTUMBUHAN OUTPUT • Determinan inflasi • Keterkaitan antar variabel ekonomi • Transmisi moneter Model, riset, statistik, expert opinion, judgement SASARAN AKHIR SASARAN INFLASI • Kesejahteraan Masy. • Trade off yg optimal antara Inflasi dan Output • Pengaruh ekspektasi KREDIBILITAS KEBIJAKAN 19
Transmisi Kebijakan Moneter BI Rate SBI Indikator: • Survey • Policy Severity • Information Var Suku Bunga Kredit FTO Money Market Liquidity RR Harga Aset Penawaran Domestik Permintaan Domestik Tekanan Inflasi Domestik Inflasi Neraca Perusahaan Tekanan Inflasi Asing Nilai Tukar Sterilisasi Valas Output Gap Ekspektasi Indikator: Suku Bunga PUAB Kondisi Likuiditas Indikator: • Suku Bunga Depostio • Suku Bunga Kredit • IHSG • Index Harga Aset • Nilai Tukar Rp • Utang Perusahaan • Aliran Kas Perusahaan • Survey Indikator: • M 1, M 2 • Kredit Bank • Realisasi Kredit Indikator: Indeks Harga Barang Impor Indikator: • CPI • Core • Harga Aset • Harga lainnya 20
Penerapan ITF di Indonesia Independensi dan tujuan keb moneter · UU No 3/2004 sebagai perubahan atas UU No. 23/1999 tentang Bank Indonesia memberikan landasan legal bagi independensi Bank Indonesia: h Inflasi merupakan satu-satunya tujuan keb moneter. h Bank Indonesia memiliki independensi dalam cara mencapai inflasi (instrument moneter), dan institutional (tidak ada campur tangan, intervensi dan anggaran). Sementara sasaran inflasi akan diumumkan oleh pemerintah dengan berkerjasama dengan bank Indonesia. h Pelarangan pemberian kredit kepada pemerintah (tidak ada fiscal dominance). 21
Penerapan ITF di Indonesia • Sasaran inflasi Ø Pemerintah setelah berkoordinasi dengan BI menetapkan sasaran inflasi Ø Sasaran inflasi ditetapkan dalam jangka menengah – jangka panjang ( 3 - 5 th) Ø Untuk saat ini ditetapkan 6 % pada tahun 2006 Ø Inflasi yang digunakan Indeks harga Konsumen (IHK) Ø Untuk perumusan kebijakan moneter ke dalam, BI dan BPS bekerjasama menghitung inflasi inti (Core inflation), yaitu inflasi yang dapat dikendalikan oleh kebijakan moneter 22
Penerapan ITF di Indonesia • Kebijakan moneter mengarah ke depan (Forward looking) Ø Setiap awal tahun pemerintah tetapkan sasaran inflasi Ø Pada setiap triwulan diadakan RDG triwulanan (April, Juli, Oktober, Januari) untuk tetapkan arah dan sasaran kebijakan moneter triwulanan Ø Setiap bulanan dilakukan RDG untuk evaluasi dan tetapkan sasaran dan operasi moneter bulanan 23
Penerapan ITF di Indonesia Ø 24
Penerapan ITF di Indonesia Ø (1) (2) (3) (4) (5) (6) BI menggunakan model dalam forecast inflasi dan makro ekonomi: MODBI ; Large – scale structural macroekonomic model SOFIE : Medium scale structural macroeconomic model (ECM) GEMBI : Dinamic General Equilibrium macro economic model SSM : Small-scale structural macroeconomic model BEER : Behavioral Equilibrium exchange rate model Indicator models : reduced forms, VAR for specific issues 25
II. Kebijakan Moneter dan Perekonomian Terbuka MUNDELL-FLEMING MODEL Zero capital Mobility High capital Mobility BP IS IS BP idn = iln idn LM = iln LM output 26
II. Kebijakan Moneter dan Perekonomian Terbuka KAITAN ANTAR SEKTOR EKONOMI MAKRO DALAM EKONOMI TERBUKA (1) EXTERNAL SECTOR Balance of Payment Current Account Export of Goods and NF Services. Import of Goods and NF Services. Transfer (Net) - Official - Private Capital Account Official Private - Direct Investment - Medium/Long-Term Capital (Net) - Short-Term Capital (Net) Overall Balance REAL SECTOR Change in NFA National Account C : Private Consumption I : Private Investment G : General Govt. Investment and Consumption X : Export of Goods and NF Service M : Import of Goods and NF Service (2) (6) (3) Revenue Tax, etc Grant Expenditure Current Capital Overall Balance Financing Domestic Financing (Net) - Banking System (MA and DMBs) - Non-Banking External Financing MONETARY SECTOR (5) Monetary Authority (MA) (4) Net Foreign Asset (NFA) Net Domestic Asset (8) - Net Claim on Central Gov’t - Liquidity Support Gov’t (9) Bonds - Net Open Market Operation (10) (SBI & Fasbi) - Liquidity Credit to DMBs - Net Other Items Reserve Money Deposit Money Banks (DMBs) NFA Banks’ Reserve Net Claim on Gov’t Securities (SBI) Credit to Private Sector Net Other Items Liabilities to MA Private Sector Deposits 27 (7)
II. Kebijakan Moneter dan Perekonomian Terbuka PURCHASING POWER PARITY (PPP) International Trade Domestic Prices (P): § Traded goods § Non-traded goods Exchange rate § Output domestik = Y = C+ I + G + X – Q DD(QP*) SS(XP/e) Foreign exchange § Trade Account dalam BOP = X(Y*, P, e) – Q(Y, P*, e) Foreign Prices (P*): § Traded goods § Non-traded goods Exchange rate (e) Asumsi: § Homogeneous traded goods and flexibel non-traded good prices § No international trade barriers § Small transportation costs § Comparable inflation measurement Law of One Prices § Absolute PPP: P = e P* § Relative PPP: π= π* + Δe/e 28
II. Kebijakan Moneter dan Perekonomian Terbuka § Domestik Money Market= MS = MD(Y, P, e, r) Domestic Interest rate (r) Domestic foreign exchange market: §Spot §Forward Exchange rate INTEREST RATE PARITY (IRP) §Capital Account dlm BOP: § Inflow: I(Y, r, e) § Outflow: O(Y*, r, e) DD[O(1+r*)] §Foreign money market SS[I(1+r/e)] § M*S = M*D(Y*, P*, e, r*) International Capital Mobility Foreign exchange Foreign interest rate (r*) Exchange rate: spot (e) or forward (f) Arbritrage mechanisms Asumsi: § Homogeneous financial assets § Efficient foreign exchange market § No capital control or perfect capital mobility § Small risks § Covered IRP: r = r* + (f-e)/e § Uncovered IRP: r= r* + Δe/e 29
II. Kebijakan Moneter dan Perekonomian Terbuka TEMA POKOK: IMPOSSIBLE TRINITY (TRILEMA) KEBIJAKAN DALAM EKONOMI TERBUKA § Tiga tujuan dalam ekonomi terbuka: (1) Stabilitas nilai tukar, (2) Kebebasan arus modal antarnegara, dan (3) Efektivitas kebijakan (moneter) untuk tujuan ekonomi domestik (inflasi dan pertumbuhan ekonomi). § Impossible Trinity: Hanya dua tujuan yang bisa dicapai. Floa ting Fixe Bebas Nilai tukar fluktuasi, absorpsi capital free mobility Kontrol Caital immobility, Nilai tukar stabil Rezim Nilai Tukar Rezim Devisa N d ilai Nila tuka i tuk r flu ktua Otonomi si ar s tabi (independensi) l Kebijakan Moneter Domestik g Uan rs bas ar a ku i Be red s (jik e ndali luktua B ke dar f er ting), tetap)g Bere t a flo a kurs Uan (jik ntrol li Alternatif Ko kenda ter moneter: Uang Beredar Kredit Suku Bunga Nilai tukar Sasaran: • Inflasi • Pertumbuhan ekonomi solusi untuk otonomi kebijakan • Rezim nilai tukar tetap dan kontrol devisa • Rezim nilai tukar floating dan devisa bebas 30
III. Kebijakan Nilai Tukar dan Devisa Sistem Nilai Tukar • Fixed exchange rate (sistem nilai tukar tetap) - Pegged to a currency - Pegged to a basket of currency - Currency board • Managed floating exchange rate (sistem nilai tukar mengambang terkendali) • Floating exchange rate (sistem nilai tukar mengambang) 31
SISTEM NILAI TUKAR Rp Rp BIASA Fixed 1200 1000 Revaluasi 800 1000 Depresiasi 0 0 Rp W Free W Rp Apresiasi Manage 1200 1000 800 0 1000 Depresiasi pelebaran band W 0 32
III. Kebijakan Nilai Tukar dan Devisa SISTEM DAN KEBIJAKAN NILAI TUKAR FIXED SISTEM KEBIJAKAN MANAGED FLOATING § Kurs tetap pada tingkat tertentu, spt: peg, currency board, dll. § Kewajiban bank sentral untuk selalu siap melayani permintaan dan penawaran devisa § Penetapan pita intervensi, dengan batas dan batas bawah. § Kurs dijaga bergerak mengambang di dalam pita intervensi sesuai mekanisme pasar. § Kurs ditentukan sesuai mekanisme permintaan dan penawaran valas di pasar valas. § Devaluasi jika nilai tukar fundamental lebih rendah dari kurs yang ditetapkan (undervalued) § Apresiasi jika overvalued § Intervensi otomatis bank sentral untuk menjaga pita intervensi. § Bank sentral jual valas jika kurs bergerak mendekati batas. § Beli valas jika kurs mendekati batas bawah. § Intervensi bank sentral untuk menjaga agar kurs pasar tidak terlalu bergejolak. § Intervensi tidak untuk mengarahkan atau mencapai target kurs pada tingkat atau kisaran tertentu. Nilai tukar: dinyatakan dalam nilai mata uang domestik per mata uang asing, misalnya Rp 9. 000 per dolar AS 33
III. Kebijakan Nilai Tukar dan Devisa SISTEM DAN KEBIJAKAN DEVISA KONTROL SISTEM KEBIJAKAN SEMI BEBAS § Seluruh devisa milik negara, dan karenanya harus diserahkan kepada negara (mis, melalui bank sentral). § Contoh: Indonesia periode 19601974 § Perlu didukung oleh administrasi dan pengawasan devisa yang ketat. § Devisa jenis tertentu boleh dimiliki dan dipergunakan secara bebas. § Contoh: Indonesia 1974 -1982: devisa hasil ekspor bebas, sementara devisa umum wajib diserahkan. § Perlu monitoring seluruh devisa dan pengawasan ketat devisa yang dikontrol. § Seluruh devisa boleh dimiliki dan dipergunakan secara bebas. § Contoh: Indonesia sejak 1982. § Perlu didukung oleh monitoring dan pelaporan lalu lintas devisa. § Setiap perolehan devisa ekspor dll wajib diserahkan ke bank sentral. § Setiap permintaan valas untuk impor dll harus izin dan diperoleh dari bank sentral. § Kemungkinan pasar gelap. § Untuk devisa yang bebas: pelaporan ke bank sentral § Untuk devisa yang dikontrol: wajib diserahkan dilayani bank sentral. § Kemungkinan pasar gelap dan multiple exchange rate. § Pelaporan devisa ke bank sentral § Ketentuan kehati-hatian untuk stabilitas nilai tukar dan devisa. 34
Faktor-Faktor Mempengaruhi Nilai Tukar Penawaran Valuta Asing : 1. Pembaya Impor Barang Pembayaran dan Jasa 1. 2. Aliran Modal Keluar 2. 2. a. Pembayaran Hutang Luar Negeri Pemerintah dan Swasta b. Penarikan Kembali Modal Asing NON FUND. 3. Kegiatan Spekulasi a. Domestik b. Internasional a. Penerimaan Hutang Luar a. Negeri Pemerintah dan Penerimaan Hutang Luar Negeri Swasta. Pemerintah dan Swasta b. Penanaman Modal Asing - Jangka Pendek - Jangka Panjang -Interven Panjang Jangkaatau Penjualan 3. si Cadangan Devisa Bank 3. Intervensi atau Penjualan Sentral Cadangan Devisa Bank 4. Kegiatan Spekulasi Sentral NON FUND. c. Penempatan Modal Penduduk DN ke LN Nilai Tukar USD/NT Domestik Penerimaan Ekspor Barang dan Jasa Aliran Modal Masuk FUNDAMENTAL Permintaan Valuta Asing : 4. Intervensi Valas 35
Sejarah Sistem Nilai Tukar di Indonesia Sistem Nilai Tukar Tetap (1971 – Maret 1983) Bank Sentral menetapkan nilai tukar terhadap mata uang tertentu sebagai “anchor”. Dalam sistem ini, excess demand dan supply akan dipenuhi/ diserap oleh Bank Indonesia melalui intervensi. Sistem Nilai Tukar Mengambang Terkendali scr ketat (April 1983 – Sep 1986) Sistem Nilai Tukar Mengambang Fleksible (Sep. 1986 – Agt. 1997) Nilai tukar ditentukan tidak hanya pada mekanisme pasar, tetapi juga dipengaruhi oleh unsur “managed” dari bank Sentral melalui intervensi. Sistem Nilai Tukar Mengambang bebas Nilai tukar dibiarkan bebas, tergantung pada mekanisme pasar. (14 Agustus 1997) 36
Devaluasi dalam berbagai sistem nilai tukar 1. Periode Nilai Tukar mengambang Ketat – – – 2. Nopember 1978 dari Rp 425 per dolar menjadi Rp 625 per dolar Maret 1983 dari Rp 625 per dolar menjadi Rp 825 per dolar September 1986 dari Rp 1134 per dolar menjadi Rp 1644 per dolar Periode Nilai Tukar mengambang Flexible Bank Indonesia melakukan 8 x pelebaran pita intervensi yaitu – September 1992 dari Rp 6 (0, 25%) menjadi Rp 10(0, 50%) – Januari 1994 dari Rp 10 (0, 50%) menjadi Rp 20 (1%) – September 1994 dari Rp 20 (1%) menjadi Rp 30 (1, 5%) – Mei 1995 dari Rp 30 (1, 5%) menjadi Rp 44 (2%) – Desember 1995 dari Rp 44 (2%) menjadi Rp 66 (3%) – Juni 1996 dari Rp 66 (3%) menjadi Rp 118 (5%) – September 1996 dari Rp 118 (5%) menjadi Rp 192 (8%) – Juli 1997 dari Rp 192 (8%) menjadi Rp 304 (12%) 3. Periode nilai tukar mengambang flexible ini Bank Indonesia • Sejak 14 Agustus 1997, Indonesia menerapkan sistem nilai tukar mengambang bebas, yaitu nilai tukar ditentukan oleh pasar 37
Hals penting menurut UU No. 24/1999 Pasal 2 Ayat (1), Setiap penduduk dapat dengan bebas memiliki dan menggunakan devisa. Ayat (2), Penggunaan Devisa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk keperluan transaksi di dalam negeri, wajib memperhatikan ketentuan mengenai alat pembayaran yang sah sebagaimana diatur dalam UU tentang Bank Indonesia. Pasal 3 Ayat (1), BI berwenang meminta keterangan data mengenai kegiatan Lalu Lintas Devisa yang dilakukan oleh penduduk. Ayat (2), Setiap penduduk wajib memberikan keterangan data mengenai kegiatan Lalu Lintas Devisa yang dilakukannya, secara langsung atau melalui pihak lain yang ditetapkan oleh BI. Pasal 4 Ayat (1), Dalam rangka penerapan prinsip kehati-hatian, Bank Indonesia menetapkan ketentuan atas berbagai jenis transaksi devisa yang dilakukan oleh Bank. Ayat (2), Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Bank Indonesia. 38
Lebih Jauh tentang wewenang BI atas Cadangan Devisa Pengelolaan Cadangan Devisa : A Pengelolaan dilakukan dengan diversifikasi menurut jenis valuta dan jenis penempatan. A Pengelolaan dilakukan berdasarkan prinsip keamanan dan kesiagaan untuk memenuhi kewajiban segera tanpa mengabaikan prinsip pendapatan yang optimal. Pengembangan Pasar Valuta Asing Melalui penyempurnaan berbagai ketentuan di bidang transaksi devisa, yaitu : • Menetapkan ketentuan transaksi de visa yang dilakukan oleh bank dalam rangka menetapkan prinsip kehati- hatian : a. b. c. Ketentuan mengenai Posisi Devisa Netto Bank-bank Ketentuan mengenai Transaksi Derivatif Pembatasan transaksi rupiah dan pemberian kredit valas Pengelolaan Nilai Tukar j Sterilisasi/Intervensi di pasar valuta asing. j Penentuan Kurs Jual / beli yang terdiri dari; J Kurs Transaksi J Kura Uang Kertas Asing. 39
Kebijakan BI terhadap Nilai Tukar [ Menjaga kondisi fundamental makro ekonomi yuang sehat. [ Melakukan intervensi ke pasar valas. [ Pengawasan langsung pada bank pelaku terbesar. [ Pemantauan rekening vostro. [ Non-internasionalisasi Rupiah, dengan membatasi akses non residen terhadap rupiah untuk menekan tindakan spekulasi 40
Kebijakan BI terhadap Nilai Tukar Pembatasan Internatinalisasi Rupiah (PBI No. 3/3/2001): pertama pelarangan transfer rupiah oleh perbankan Indonesia kepada nonresiden, khususnya untuk transfer rupiah tanpa didasari transaksi riil yang mendukung kegiatan ekonomi Indonesia; kedua pembatasan terhadap transaksi derivatif yang tidak didasari oleh kegiatan ekonomi riil atau non-underlying transaction, yakni dengan menurunkan batas maksimum transaksi derivatif penjualan valuta asing dari bank domestik kepada nonresiden dari $5 juta menjadi $3 juta. 41
Kebijakan Devisa Tujuan Kebijakan Devisa • Mendukung kesinambungan pelaksanaan pembangunan • Mendukung efektifitas pelaksanaan kebijakan moneter Wewenang BI atas Cadangan Devisa • Pengelolaan Cadangan Devisa • Pengembangan Pasar Valuta Asing • Pengelolaan Nilai Tukar Sistem Nilai Tukar dan Lalu Lintas Devisa diatur dalam UU No. 24 tahun 1999 – tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar. 42
SEQUENCING CAPITAL ACCOUNT LIBERALIZATION Untuk memaksimumkan keuntungan dari capital account liberalization dan meminimumkan risiko-risiko yang muncul, sequencing perlu dilakukan, yaitu: 1. Conventional view sebelum dilakukan perlu • Sound macroeconomic stability • Developing domestic financial institutions • Developing domestic financial markets • Mempunyai banyak instruments (risk management capabilities, hedging, dll) 2. Early capital account liberalization sebagai katalisator economic reform yang menyeluruh 3. Capital account liberalization harus menjadi bagian dari pendekatan menyeluruh atas macroeconomic dan structural reform 43
Sejarah Sistem Devisa Kontrol, UU No. 32/1964 Sistem Devisa Semi Kontrol, PP No. 64/1970 Eksportir wajib menyerahkan devisa hasil ekspor kepada Bank Indonesia. Devisa dibagi ke dalam DHE dan DU. Eksportir wajib menyerahkan devisa hasil ekspor kepada Bank Indonesia, sementara DU bebas digunakan dipergunakan. Sistem Devisa Bebas, PP No. 1/1982 Penegasan Sistem Devisa Bebas, UU No. 24/1999 44
Questions and Answers 45
4025a786524866ac0bd4ecaeb7eca395.ppt