3a75ec8c14003284438c74cd0b5d22fc.ppt
- Количество слайдов: 133
RIWAYAT SINGKAT Prof. Dr. H. Abdul Madjid Latief, MM. , M. Pd. Pendidikan S 1 IKIP Negeri Yogyakarta - Ekonomi Perusahaan S 2 STIE Institute Pengembangan Wirausaha Indonesia Jakarta Manajemen Sumber Daya Manusia S 2 Universitas Negeri Jakarta - Administrasi Pendidikan S 3 Universitas Negeri Jakarta - Manajemen Pendidikan Pekerjaan Dosen Sarjana / Magister UHAMKA Dosen Magister Pendidikan Islam ( PTIQ ) Jakarta Dosen Magister Manajemen BSI Bandung Dosen Doktor Manajemen YAI Jakarta Dosen Magister UTP Palembang Jabatan akademik : Guru Besar bidang ilmu administrasi pendidikan Tugas Profesi Asesor Sertifikasi Guru dalam Jabatan Instruktur Diklat Profesi Guru Tim Penilai Nasional Kepangkatan Fungsional Guru IVa Keatas Instruktur Diklat Kepala Sekolah/ KTI Komunikasi : Hp. 081 380 304 543 Email : madjid_latief@yahoo. co. id 1
KONTRAK PERKULIAHAN 2
Tujuan Instruksional Umum Menyusun kontrak perkuliahan untuk satu semester Tujuan Instruksional Khusus 1. Menjelaskan pengertian dan manfaat kontrak perkuliahan 2. Menjelaskan komponen kontrak perkuliahan 3
KONTRAK BELAJAR Kesepakatan antara Mahasiswa & Dosen tentang bentuk dan isi program belajar • Kontrak belajar individual • Kontrak belajar klasikal / kontrak perkuliahan FUNGSI • Menjelaskan peranan dan tanggung jawab Mahasiswa dan Dosen • Meningkatkan efisiensi belajar 4
KOMPONEN KONTRAK PERKULIAHAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Manfaat Mata Kuliah Deskripsi Mata Kuliah Tujuan Instruksional Organisasi Materi Strategi Perkuliahan Materi / Bahan Bacaan Tugas- tugas Kriteria Penilaian Jadwal Kuliah : • • Topik Bahasan Bahan Bacaan 5
RANGKUMAN Kontrak perkuliahan merupakan kesepakatan Dosen dan Mahasiswa mengenai berbagai aspek perkuliahan yang dilakukan di awal perkuliahan 6
PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN ISLAM PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT PTIQ JAKARTA SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP) TAHUN 2014 Mata Kuliah : Manajemen Pendidikan Islam Kode / Semester / Konst : 026 / Genap Dosen : Prof. Dr. H. Abdul Madjid Latief. , MM. , M. Pd. A. Deskripsi Singkat Manajemen Mahasiswa mampu mengintegrasikan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik dalam pembahasan variabel, dimensi dan indikator serta disiplin ilmu yang berkontribusi terhadap manajemen pendidikan islam. 7
B. Tujuan Mata Kuliah : Mahasiswa dapat menyusun, definisi konseptual dari teori-teori yang dikaji, menyusun instrument pengumpulan data dan dapat menjelaskan fenomena yang terjadi dalam masyarakat. C. Sistem dan Metode Perkuliahan Kontrak Kuliah diawal perkuliahan, penyajian materi sesuai dengan pokok bahasan, penugasan individu dan kelompok, bedah kasus, diskusi, presentasi, UTS dan UAS. 8
D. Materi Ajar Perte muan Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 2 Kontrak Perkuliahan Isu-Isu Seputar Pendidikan 3. Introduction 1. 2. 1 Permasalahan Dalam Pendidikan Dimensi-Dimensi dalam Aplikasi delapan dimensi administrasi Administrasi Pendidikan pendidikan: 1. Social ad Culture Dimensions 2. Learning Process Efectivity 3. Organizational Behavior in Educational 4. Economics and Financing 5. Human Resource Development 6. Law and Profesional Dimension 7. Political Dimension 8. Technical Information Dimension 9
1. Pengertian Kepemimpinan 2. Pengertian Manajemen 3. Dimensi Tipe Kepemimpinan 4. Teori Kepemimpinan 5. 4 Kepemimpinan dalam Manajemen Pendidikan 3 Kewenangan dan Tanggung Jawab 1. Langkah-langkah Dalam Pengelolaan Strategi dan Pendidikan Strategi Pendidikan 2. 3. Siklus Dalam Strategi Pendidikan Pengambilan Keputusan dalam 1. Penemuan Masalah Pendidikan 2. Sifat Pengambilan Keputusan 3. Model Pengambilan Keputusan 4. 6 Berfikir Sistemik/Holistik 4. 5 Visi dan Misi Dalam Pendidikan Penggunaan Perangkap Kuantitatif 1. Pengertian dan Hakekat Perencanaan 2. Pentingnya Perencanaan 3. Langkah-Langkah Perencanaan 4. Perencanaan Dalam Pendidikan Perencanaan dalam pendidikan 10
7 Model dalam Manajemen 1. TQM, TQE, Konsep Dasar dan Pendekatan Dalam Pendidikan 2. MBO, Konsep Dasar dan Pendekatan Dalam Pendidikan 8 UTS 9 Pengembangan SDM 1. Pengertian Pengembangan Pendidikan 2. Pendekatan Pengembangan 3. Strategi Pengembangan Learning Organization 1. Kepemimpinan (Sekolah Sebagai 2. Struktur Berbasis Tim Organisasi Pembelajar) 3. Pemberdayaan Staf 4. Strategi Partisipatif 10 Budaya Adaftif. 11 Pengawasan dan Supervisi 1. Pengertian dan Hakekat Pengawasan Pendidikan 2. Pengawasan Dalam Pelaksanaan Program Pendidikan 3. Konsep Dasar dan Supervisi Pendidikan 4. Pendekatan dalam Supervisi Pendidikan 11
12 Layanan dalam Dimensi-Dimensi Mutu Layanan Pendidikan Dalam Pendidikan Komunikasi dalam 1. Konsep Dasar Dalam Pendidikan 13 2. Proses Komunikasi 3. Landasan Komunikasi 4. Hambatan Dalam Komunikasi 1. Jabatan Guru Sebagai Profesi 2. Guru yang Kompeten Kependidikan 15 Efektifitas Kualitas Guru dan Tenaga 14 3. Sertifikasi Guru Evaluasi Kinerja 1. Evaluasi Kinerja Kepala Sekolah 2. Evaluasi Kinerja Pengawas 3. Evaluasi Kinerja Guru 4. Evaluasi Kinerja Lembaga 16 UAS 12
E. Daftar Pustaka Anderson, The Social Contect of Education Planning. Blaine R. Worthen & James R. Sanders. 1987. Educational Evaluation. New York: Longman. Edward T. Swan. Let’s Put More Quality into, TQM. Contemporary Education, vol. 67. No. 2. 1996 Frederick C. Rau. Quality Opportunities in Education. Contemporary Education, vol. 67. No. 2. 1996 Furter Pierre, The Planner and Lifelong Education, Unesco: International Institute for Educational Planning Gamble Paul R & John Blackwell, 2002. Knowledge Management, Printed and Bound in Great Britain by Biddles Ltd. Iman Barnadib. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Ghalia Indonesia. James R. Sanders. Chair. 1994. The Program Evaluation Standars. California: SAGE Publication, Inc. Jerry Summers. Quality Standars for schools. Contemporary Education, vol. 67. No. 2. 1996 Jossey, Boss. Educational Administration: A Project of the American Educational Research Association, 1999. San Fransisco. Publishers. Mulyasa E, (2002). Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosdakarya Newell A. Clarence, 1978. Human Behavior in Educational Administration. Prentice Hall, Inc. Englewood Cliffs, New Jersey. London. Oliva, F. Peter, 1984. Supervision for today’s school. Longman, New. York and London Rank W. banghart & Albert Trull, Educational Planning. Jr The Mac Millan Company. New York. 2002 Satinder Dhiman & Daniel Seymour. Leading The Quality Revolution: Same Key Challenges. Contemporary Education. Vol. 67. No. 2. 1996. Wayne K. Hoye Cecil G. Educational Administration Theory, Research and Practice. Miskel. Mc. Graw-Hill 2001. Wirawan, 2013, Kepemimpinan Konsep dan Teori Dalam Penelitian, Jakarta: PT. Raja Gravindo 13 Persada.
F. Komponen Penilaian/Nilai 14
Penugasan I Individu a. Membahas setiap pokok bahasan mulai urutan nomor 3 s. d nomor 15 dibagi menurutan absensi. b. Pembahasan dengan menggunakan konsep teori dari berbagai sumber yang menggunakan catatan sumber (body note). Minimal menggunakan 3 (tiga) sumber pustaka. c. Bentuk makalah ilmiah. Terdiri dari: I Pendahuluan (Peran dan Fungsi Topik Bahasan) II Pembahasan (Pengertian dan Unsur-Unsur Pembahasan) III Penutup - Glosarium - Daftar Pustaka d. Penyelesaian tugas pada pertemuan ke-3. 15
II Kelompok a. Kelompok dibagi menjadi 12 kelompok, setiap kelompok maksimal 3 orang. b. Tugas kelompok survey lapangan sesuai dengan topik pembahasan. c. Tempat survey Sekolah, Dinas Pendidikan, dan Yayasan Pendidikan. d. Buat instrumen pengumpulan data - Protokol Observasi - Protokol Wawancara e. Dibuat laporan pengumpulan data lapangan (dilengkapi foto-foto dan lampiran). f. Tugas selesai s. d pertemuan ke-8. 16
ISU-ISU MENJADI SOROTAN PENDIDIKAN 17
Pendidikan dan masa depan Sepuluh kesalahan dalam pengelolaan pendidikan nasional pada era orde baru sekarang telah melahirkan buahnya yang pahit, yakni: 1. Generasi muda yang langitnya rendah, tidak memiliki kemampuan imajinasi idealistik. 2. Angkatan kerja yang tidak bisa berkompetisi dalam lapangan kerja pasar global. 18
3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Birokrasi yang lamban, korup dan tidak kreatif. Pelaku ekonomi yang tidak siap bermain fair. Masyarakat luas yang mudah bertindak anarkis. Sumberdaya alam (terutama hutan) yang rusak parah. Cendekiawan yang hipokrit. Hutang luar negeri yang tak tertanggungkan. Merajalelanya tokoh-tokoh pemimpin yang rendah moralnya. Pemimpin-pemimpin daerah yang kebingungan. Bupati daerah minus tetap mengharap kucuran dari pusat, bupati daerah plus menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak strategis. 19
KEADAAN KITA SEKARANG Menurunnya moral Terjadinya dan tetap suburnya KKN Penjarahan, pembunuhan, perkosaan, pembakaran, perusakan, penculikan. Tidak satunya kata dengan perbuatan Ketidakmampuan mengendalikan diri Egoisme, kambing hitam Krisis keteladanan, merebaknya ketidakadilan Keterpurukan secara ekonomi Kemiskinan 20
KEADAAN KITA SEKARANG Pemaksaan kehendak Ketidaksiapan berdemokrasi Tawuran Ancaman Disintegrasi Maraknya pertentangan atas dasar SARA Menipisnya toleransi Rendahnya mutu pendidikan Besarnya dropout dan anak tidak sekolah Meningkatnya PHK dan Pengangguran Ancaman dan Ketidakpedulian terhadap lingkungan Konflik penegak hukum 21
SEKOLAH TIDAK ADA PENGGANTI PENDIDIKAN FORMAL GURU TIDAK DAPAT DIGANTIKAN TUNTUTAN YANG MAKIN BERAT KURIKULUM YANG OVERLOAD VARIASI MURID YANG BERTAMBAH BESAR LEDAKAN ILMU DAN MEDIA LULUSAN MENGANGGUR 22
PENDIDIKAN • • • Pembentukan Moral Latihan berdemokrasi Menghilangkan kemiskinan Pengembangan potensi belajar untuk belajar Pendidikan demokrasi dan toleransi Pengembangan potensi pribadi secara maksimal Mempersiapkan generasi penerus yang lebih baik tidak mengulang kesalahan masa lalu Pengentasan kemiskinan dan kebodohan Penyelamatan lingkungan 23
GURU KESEJAHTERAAN GURU KURANG PROFESIONAL KECINTAAN TERHADAP ANAK DAN PEKERJAAN YANG MINIMAL KREATIVITAS YANG TERHAMBAT DAN TIDAK TERLATIH KETIDAKMAMPUAN BEKERJA DALAM TEAM TIDAK TERLATIH DALAM BERDEMOKRASI DIBIASAKAN SEBAGAI ALAT 24
PENDIDIKAN GURU • • • Tidak terpisah dari penghargaan profesi guru Dialogis Pembentukan kepribadian dan moral Pengembangan intelektual yang tinggi Pengembangan kecintaan terhadap anak, profesi Bekerja dalam team dan berdemokrasi serta toleransi Orientasi standard performance yang tinggi Kaya, bervariasi dan fleksibel Keterlibatan yang lebih intensif dari mahasiswa dan dosen Student centre learning 25
PENDIDIKAN GURU Kepandaian memilih esensial dari yang tidak Kemampuan melibatkan anak Belajar bagaimana belajar untuk pengembangan profesi Kemampuan untuk memotivasi anak membawanya beradvounturir dalam World Of Mind Pengembangan sifat sabar, toleran dan kemampuan berempati. Masyarakat LPTK adalah masyarakat yang dipelajari dan diteladani calon guru. 26
MASALAH-MASALAH DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN DI INDONESIA Masalah pemerataan akan kesempatan pendidikan Masalah kualitas pendidikan Masalah produktivitas pendidikan Masalah efektivitas dan efisiensi pendidikan 27
SCHEME OF EDUCATION IN INDONESIA Age Year 27 21 26 20 25 19 24 18 23 17 22 14 19 12 17 11 Higher Education 13 18 Magister 15 20 Level Doctor 16 21 Stage 16 15 10 Sarjana In. School U N I V E R S I T Y I N S T I T U T H I S 3 G H S S 2 C H O O L P O L I Out of School Open University A C A D 3 D 2 D 1 3 2 1 Secondary Education Courses and Training 28
SCHEME OF EDUCATION IN INDONESIA Age Year Stage Level In. School Out of School 9 14 8 13 7 12 6 11 5 10 4 9 2 7 Package A Programme 3 8 Basic Education 1 6 5 OA OB 29
DIMENSI-DIMENSI DALAM ADMINISTRASI PENDIDIKAN 30
DIMENSI-DIMENSI DALAM ADMINISTRASI PENDIDIKAN Social and culture dimension Learning process efectively Economic and financing dimension Organizational behavior in education dimensions Political demensions Law and profesional dimension Human resources development dimension Technical Information dimension 31
KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN PENDIDIKAN 32
KEPEMIMPINAN DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN John Kotter (1990) dari Harvard Business School membedakan antara kepemimpinan dan manajemen dalam proses inti dan hasil yang diharapkan. Manajemen berusaha membuat perkiraan dan aturan dengan (1) menetapkan sasaran operasional, membuat rencana tindakan berdasarkan jadwal, dan mengalokasikan sumber daya; (2) mengorganisasikan dan menugaskan (menentukan struktur, menugaskan orang ke berbagai pekerjaan); dan (3) memantau hasil dan menyelesaikan masalah. Kepemimpinan berusaha untuk membuat perubahan dalam organisasi dengan (1) menyusun visi masa depan dan strategi untuk membuat perubahan yang dibutuhkan, (2) mengkomunikasikan dan menjelaskan visi, dan (3) memotivasi dan memberi inspirasi kepada orang 33 lain untuk mencapai visi itu
Tabel Perbedaan antara Pemimpin dan Manajer MANAJER PEMIMPIN Melakukan inovasi Mengurus Mengembangkan Mempertahankan Memberikan inspirasi Mengendalikan Memiliki panjang pandangan jangka Memiliki pendek pandangan jangka Menanyakan apa dan mengapa Menanyakan bagaimana dan kapan Memunculkan Mengawali Menantang status quo Menerima status quo Melakukan sesuatu yang benar Melakukan benar sesuatu SUMBER : Perbedaan diambil dari W. G. Bennis, On Becoming a Leader (Reading, MA: Addison-Wesley, 1989). dengan 34
PENGERTIAN PENDIDIKAN Pendidikan adalah proses pemberian bantuan, pertolongan, pengarahan dan bimbingan oleh orang dewasa (pendidik) pada anak yang belum dewasa (anak didik) untuk mencapai kedewasaannya (tujuan pendidikan) masing-masing. (Langeveld) Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan kebersamaan manusia. (John Dewey) PERTEMUAN JODOH LIFE LONG EDUCATION TUTUP USIA PROSES PENDIDIKAN 35
ADMINISTRASI DAN MANAJEMEN PENDIDIKAN Administrasi Pendidikan merupakan keseluruhan kebijakan untuk mencapai tujuan pendidikan secara total. Dalam mencapai tujuan secara total, harus dilakukan oleh organisasi pendidikan sebagai wadah dan manajemen pendidikan sebagai pelaksana pendidikan. Dalam pengertian ini manajemen pendidikan sebagai bagian dari administrasi pendidikan. Disisi lain administrasi pendidikan diartikan sebagai perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan serta pengawasan pendidikan. Dalam pengertian ini administrasi pendidikan sama dengan manajemen pendidikan 36
Hasil Penelitian CEO (Chief Executive Officer) Most Successfull ada 2 hal : 1 Bagaimana pemimpin itu sukses adalah dari sisi manajerial 2 Adalah kepribadiannya secara umum sama dengan kriteria 10 item: Passion Cara berpikir yang jelas dan rasional Memiliki kemampuan komunikasi Sehat Jasmani Kecerdasan dan Kreatifitas Kecerdasan spiritual Rendah Hati Perilaku positif Faktor keluarga yang utuh Memiliki perpaduan antara keterampilan manajerial dan kepemimpinan 37
Perbedaan Administrator, Manajer dan pemimpin FAKTOR ADMINISTRATOR MANAJER PEMIMPIN Memberi imbalan bawahan Imbalan diberikan berdasarkan kebijakan organisasi Kerja lebih keras Imbalan besar mendapatkan berdasarkan hasil imbalan lebih kerja besar Dasar pengambilan keputusan Keputusan dibuat berdasarkan kebijakan dan prosedur yang ada Berpegang teguh pada kebijakan: penyimpangan hanya jika dapat dipertanggung jawabkan Keadaan khusus memerlukan keputusan yang berbeda Kreativitas / inovasi Perubahan merupakan ancaman Perubahan melalui perencanaan Perbaikan berasal dari perubahan Efisiensi / efektivitas Meliputi rician mendalam Melakukan sesuatu dengan benar 38
Pemikiran Jangka pendek: Jangka kerangka waktu bulan ke bulan, menengah 2 tahun ke tahun sampai 4 tahun Strategik 5 -10 tahun Perubahan Mempertahanka Perubahan n status quo dilakukan jika didorong secara terjadi masalah terus menerus besar atau jika ada tekanan Konflik Hindarkan konflik dengan biaya apa saja Diselesaikan Memahami jika konflik jadi konflik akan membesar terjadi, menyelesaikann ya untuk perubahan Loyalitas bawahan Kepada kebijakan Campuran antara kepada kebijakkan dan manajer Pengambilan resiko Hindarkan dengan biaya apapun Memanajemeni Mendorong risiko agar pengambilan minimal resiko terencana Kepada pemimpin 39
Sumber: Mc. Conkey (1989) Pendekatan kepada problem Hindari seperti penyakit Reaktif pecahkan ketika muncul Proaktif problem normal bagian dari pekerjaan Dasar loyalitas Dituntut Diperoleh Diberikan bawahan dengan sukarela Delegasi Mempunyai wewenang terbatas sehingga terjadi delegasi terbatas Mendelegasikan wewenang sesuai dengan tanggung jawab Mendelegasikan sepenuhnya dengan kontrol minimal Pengontrolan Ekstensif sering eksesif Ketat berdasarkan Minimal yang delegasi diperlukan untuk kekuasaan mengontrol Komunikasi Dari atas ke bawah dan internal Berdasarkan metode yang ditentukan Tekanan organisasi Kaku sesuai dengan ketentuan Menekankan pada organisasi formal organisasi 40 informal Mengembangkan komunikasi 2 arah dan komunikasi eksternal
NO DIMENSI INDIKATOR a. Menanggapi organisasi milik pribadi KISI-KISI VARIABEL GAYA PEMIMPIN 1 OTOKRATES b. c. d. e. 2 MILITERISTIS 3 PATERNALISTIS 4 KHARISMATIS 5 DEMOKRATIS Mengidentifikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi Bawahan sebagai alat Kritik, saran, pendapat di abaikan Terlalu tergantung kekuasaan formalnya a. b. c. d. e. a. b. c. d. Menggerakkan bawahan tergantung pangkat dan jabatan Sistem perintah lebih sering digunakan Suka formalitas berlebihan Menuntut disiplin tinggi dan kaku dari bawahan Senang upacara berbagai kegiatan a. b. c. d. e. f. Menanggap bawahan belum dewasa Bersikap terlalu melindungi Jarang memberikan bawahan dalam pengambilan keputusan Jarang memberikan bawahan dalam pengembangan kreasi dan fantasinya Daya tarik yang kuat dan pengikut yang banyak Prinsip manusia memilih potensi Menerima kritik, saran, dan pendapat dari bawahan Bekerja secara team work Kesempatan yang luas pada bawahan Bawahan lebik baik Mengembangkan kapasitas pribadi sebagai pemimpin 41
NILAI-NILAI KEPEMIMPINAN LOKAL SUMATERA • • • Di mana bumi dipijak, disana pula langit dijunjung (sebagai pendatang harus beradaptasi, berinteraksi dan menghormati budaya setempat). Anak dipangku, kemenakan dibimbing (pemimpin bukan saja menjadi kepala keluarga bagi kelompoknya, melainkan juga menjadi pelindung dan pembimbing bagi semua warganya). Ditinggikan satu ranting, didulukan satu langkah (pemimpin dihormati bukan berarti bisa bertindak segalanya). Dalihan na tolu (pemimpin yang andal harus dapat mengelola hubungan yang harmonis dengan semua pihak, dalam teori kepempinan modern disebut 360 Degree Leadership). Tungku nan tiga sajarangan tali nan tiga sapilin (egaliter dan demokratis, mengenal sistem pembagian kerja, pengambilan keputusan melalui proses musyawarah dari unsur -unsur kepemimpinan yang bersifat setara tetapi saling melengkapi dan saling membutuhkan). 42
SUNDA Gagade bari nyarande (mementingkan kesejahteraan dan kemajuan anak buahnya) Ulah haripeut ku teuteureuyeun ( jangan serakah, jangan korupsi/kolusi). Nyaah ka sarakan, nyaah ka lingkungan (kebijakan pemimpin prolingkungan, prorakyat). Kejot borosot (jangan mengambil keputusan cepat atau tergesa-gesa). Cageur, bener, singer dan pinter (sehat jasmani dan rohani serta sehat berprasangka; baik hati dan penolong serta ikhlas menjalankan dan mengamalkan; jujur dan bertanggung jawab serta tidak merusak alam; penuh mawas diri dan mendahulukan orang lain sebelum pribadi; pandai ilmu dunia dan akhirat). 43
JAWA • • • Hastabrata (delapan perilaku pemimpin, yaitu memberi kepada sesama; sanggup melenyapkan hal-hal yang merusak; dinamis dan rendah hati; memberikan kehidupan yang layak kepada orang yang dipimpin; memberikan energi kehidupan kepada masyarakat; memberikan rasa tenteram dan menjadi sinar dalam kegelapan; bertindak arif sekaligus visioner; tidak sempit pandangan emosionaltempramental-gegabah). Aja gumunan, aja kagetan lan aja dumeh (jangan gampang terkejut dan heran, jangan mentang-mentang, sikapi segalanya dengan tenang dan bijak). Ing madya mangun karso (harus mampu membangun semangat bawahan untuk berswakarsa dan berkreasi). Tut wuri handayani (pemimpin memberi dorongan kepada orang yang dipimpinnya agar berjalan di depan dan mampu bertanggung jawab). Pancatiti darmaning prabu (lima kewajiban sang pemimpin; memberi dorongan motivasi; memberi bimbingan dan mengambil keputusan dengan musyawarah; menjadi teladan; tidak selalu menggunakan kekuatan atau kekerasan dalam memimpin; terdepan dalam mengorbankan tenaga, waktu, materi, pikiran, bahkan jiwa). 44
LANJUTAN Ambeg paramarta, satya, geminastiti, blaka dan legawa (mendahulukan yang penting, setia, sederhana, terbuka, ikhlas). Ilmu padi (semakin hebat, semakin pintar dan tinggi ilmunya, semakin rendah hati dan mengamalkanya tanpa sifat ingin pamer). Sabda pandita ratu tan kena wola-wali (pemimpin harus konsekuen untuk melaksanakan apa yang dikatakan). 45
KALIMANTAN Humabetang (budaya rumah panjang tempat terciptanya harmoni antara peran individu dan kebersamaan, kemudian dituangkan dalam bentuk organisasi kemasyarakatan). Hatamuei lingu nalata (saling memahami, saling menghargai, saling menghormati, toleransi). Isen mulang (semangat pantang mundur, tidak mudah menyerah). Belum bahadat (menjunjung tinggi kejujuran, kesetaraan, kebersamaan dan toleransi serta taat pada hukum). Rengantingang nyanakjata (memanusiawikan diri sendiri, manusia, kehidupan dan masyarakat, menjadikan bumi sebagai tempat kehidupan manusiawi anak manusia). 46
SULAWESI • • • Toddopuli temmalara (tertuang dalam adele atau adil, lempu atau kejujuran, tongeng atau kebenaran dan getteng atau keteguhan hati). Sipatuo sipatokkong, sibaliperi, pada’idi pada’elo’ (kesediaan hidup bersama, saling membantu dalam keadaan apa pun, suka dan duka dengan kesadaran yang dalam bahwa kita menyatu dalam semangat kekitaan tanpa ada sedikit pun friksi di dalamnya). Sitou timou tumou tou’ (pemimpin harus dapat menerapkan pola kepemimpinan sayang-menyayangi, baik hati, dan saling mengingat kepada sesama manusia). Aja muamelo ribetta makkala’riccapa’na lettengnge (jadilah pemimpin yang bertindak cekatan dan bereaksi cepat mendului orang lain dengan penuh keberanian meskipun menghadapi tantangan berat, karena masyarakat menanti pemimpin yang seperti itu dengan harap). Somahe kai kehage (seorang pemimpin harus tetap teguh dan tabah dalam menghadapi semua cobaan). 47
STRATEGI DALAM PENDIDIKAN 48
Pengelolaan Strategi : Upaya taktis dari organisasi dalam mencapai sasaran jangka panjang dengan menggunakan ramalan awal melalui kombinasi kegiatan analisis dalam merumuskan, melaksanakan dan mengontrol pelaksanaan perencanaan fungsional keputusan manajerial dengan pertimbangan konteks eksternal. 49
KERANGKA BERPIKIR DALAM MEGOPERASIKAN ISU-ISU KEBIJAKAN PENDIDIKAN MASUK SEKOLAH (ACCESS) INPUT BERTAHAN DI SEKOLAH (SURVIVE) OUTPUT OUTCOME PROSES BERHASIL LULUS (EFISIENSI INTERNAL) DAMPAK TERHADAP KEHIDUPAN (EFISIENSI EKSTERNAL) 50
9 PENGENDALIAN DAN EVALUASI 8 PROSEDUR PELAKSANAAN 2 MISI 1 VISI Pimpinan Perguruan Tinggi Dalam Manajemen stratejik Pengembangan Mutu Terpadu Program Pendidikan Tinggi 7 SUMBER DAYA 3 TUJUAN DAN SASARAN 4 STRATEGI 5 KEBIJAKAN 6 PROGRAM PERAN VISI DALAM JALINAN UNSUR-UNSUR DAN FAKTOR-FAKTOR MANAJEMEN STRATEJIK 51
MANAJEMEN STRATEJIK DALAM PENGEMBANGAN MUTU TERPADU PROGRAM PENDIDIKAN DI PERGURUAN TINGGI VISI : NILAI, MISI & ARAH ORGANISASI ANALISIS LINGKUNGAN INTERNAL STRATEJIK : ORGANISASI : Profit dan Kapasitas Organisasi ALTERNATIF STRATEGI UTAMA ANALISIS SWOT TUJUAN DAN SASARAN ANALISIS LINGKUNGAN EKSTERNAL STRATEJK : ORGANISASI : Tantangan, Masalah Peluang dan Ancaman Organisasi U M P A N VARIASI STRATEGI PERUMUSAN STRATEGI Pilihan Strategi Kebijakan B A L I K PELAKSANAAN STRATEGI Program Sumber Daya Prosedur PENGENDALIAN DAN EVALUASI Kinerja & Hasil Pelaksanaan Program 52 Sumber : Modifikasi Model Manajemen Stratejik Quigley (1993), Wahyudi (1996), Hunger & Wheelen (1996)
MANAJEMEN STRATEJIK Analisis & Lingkungan Perumusan Strategi Misi Pelaksanaan Strategi Evaluasi dan Pengendalian Misi Eksternal Sasaran Lingkungan Sosial Lingkungan Kerja Internal Strategi Program Kebijakan Biaya Struktur Budaya Sumber Prosedur Kinerja Umpan Balik Sumber : J. david Hunger & Thomas L. Wheelen dalam Strategic Management (1996 : 10) 53
PENGELOLAAN STRATEGI (STRATEGI MANAGEMENT) TAHAPAN PENGELOLAAN STRATEGI Eksternal 1. Analisis Lingkungan Pelaksanaan Strategi Biaya (Sumber Daya) Internal Pelaksanaan Misi Sasaran 2. Perumusan Strategi Program 3. Prosedur 4. Evaluasi & Pengendalian Kinerja Strategi Kebijakan ANALISIS STRATEGI LINGKUNGAN (SWOT ANALYSA) Opportunity 1. Eksternal Strength 2. Internal Threat Weakness 54
PERENCANAAN DALAM PENDIDIKAN (Planning Education) 55
DEFINISI PERENCANAAN PENDIDIKAN Defenisi yang dikemukakan oleh Guruge bahwa “A simple definition of educational planning is the process of preparing decision for action in the puture in the field of educational development is the functional of educational planning. ” Dengan demikian menurut Guruge bahwa perencanaan pendidikan adalah proses mempersiapkan kegiatan dimasa depan dalam bidang pembangunan pendidikan adalah tugas dari perencanaan pendidikan 56
DEFINISI PERENCANAAN PENDIDIKAN Defenisi lain yang dikemukakan oleh Albert Weterston (Don Adams) bahwa: ”Functionalplanning involves the application of a ration system of choices among feasible cources of aducationalinvesment and the other developmentactionsbasedon a consideration of economic and social cot and benefits. ” Atau dengan kata lain bahwa perencanaan pendidikan adalah investasi pendidikan yang dapat dijalankan dengan kegiatan – kegiatan pembangunan lain yang didasarkan atas pertimbangan ekonomi dan biaya serta keuntungan social 57
DEFINISI PERENCANAAN PENDIDIKAN Menurut Coombs perencanaan pendidikan adalah suatu perencanaan yang rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar perkembangan pendidikan itu lebih efektif dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan tujuan para peserta didik dan masyarakat. 58
PENTINGNYA PERENCANAAN Adanya pedoman, bagi pelaksanaan kegiatan- kegiatan yang ditujukan kepada pencapaian tujuan Melakukan suatu perkiraan (forecasting) dalam pelaksanaan yang akan dilalui Memilih alternative cara yang terbaik (the best alternative ) atau memilih kombinasi yang terbaik (the best c alternative combination. ) Penyusunan skala prioritas Sebagai alat pengukur evaluasi kenerja usaha atau organisasi atau pendidikan. 59
Langkah-Langkah Perencanaan Tetapkan sarana atau perangkat tujuan Tentukan situasi sekarang Identifikasi pendukung dan hambatan tujuan Kembangkan rencana dan perangkat tindakan untuk mencapai tujuan 60
T Langkah 1 Langkah 2 Tetapkan tujuan Tentukan situasi sekarang Langkah 3 Tentukan pendukung Dan rintangan Langkah 4 U Kembangkan seperangkat tindakan J U AN 61
Apa yang di Maksud dengan Perencanaan Pendidikan ? Perencanaan Pendidikan adalah proses dan persiapan yang akan dilakukan pada masa mendatang, dan bagaimana cara mencapai tujuan pendidikan dalam upaya mengkoordinasi dan menseleksi alternatif kebijakan, peraturan, program, prosedur, strategi, sosial budaya, ekonomi dan anggaran pendidikan untuk memperoleh nilai tambah dalam pembangunan kehidupan masyrakat bangsa dan negara (Beeby C. E) 62
4 Hal Sebagai Landasan Perencanaan Pendidikan Tujuan Pendidikan Sumber Daya Permasalahan Pendidikan Cara Mencapai 1 2 Program 3 4 Waktu 4 Hal Perencanaan 63
SIKLUS PERENCANAAN PENDIDIKAN (Soebagio Atmodiwirjo) Siklus Perencanaan Pendidikan adalah suatu proses berlangsungnya perencanaan pendidikan yang berulang tahapan kronologis yang harus dilalui sebagai langkah-langkah dalam pelaksanaan perencanaan pendidikan dilaksanakan secara terdaur. 64
LANGKAH-LANGKAH YANG HARUS DILALUI (Soebagio Atmodiwirjo) Pengumpulan dan Pengolahan Data Informasi 2. Analisis dan Diagnosis 3. Perumusan Kebijakan 4. Perkiraan Kebutuhan yang akan datang 5. Penetapan Sasaran 6. Penyusunan Alternatif Strategi 7. Perumusan Rencana 8. Penganggaran 9. Perincian Rencana 10. Pelaksanaan Rencana 11. Evaluasi Rencana dan Pelaksanaan 1. 65
Apa Dasar Pemikiran (Premis) dalam Perencanaan Pendidikan ? Perencanaan Pendidikan Tinjauan Azas Keterbatasan Sumber Daya Fungsi Kondisi Masyarakat Positif/Negatif Proses Tanggung Jawab Organisasi Keterbatasan Fisik/Mental Tiga Pendekatan Perencanaan Pendidikan Berdasarkan Karakteristik Proses Pemecahan Masalah 66
Karakteristik Proses Pemecahan Masalah 1. Mudah dicapai 1. Rangkaian Jelas 1. Rasionalitas 2. Memiliki Obyek 2. Sistem 2. Memiliki Teknik Ilmiah 3. Memiliki Teknik 3. Mencapai Kepuasan 3. Sistematika 4. Harus Terinci 5. Ada Pelaksanaan 6. Bersifat Sederhana 7. Fleksibel 8. Praktis 9. Memiliki Resiko Kecil 10. Bersifat Forecasting 67
Apa Tujuan Perencanaan Pendidikan ? Pedoman pencapaian sasaran pendidikan dan alat ukur pembanding antara hasil pendidikan yang dicapai dengan harapan Bagaimana Decision Making Tujuan Perencanaan Pendidikan ? Kejelasan rancangan keputusan yang akan dilaksanakan dan pola kegiatan satuan kerja dalam melakukan kebijaksanaan 68
Bagaimana Strategi dan Proses Perencanaan Pendidikan ? 1. 2. 3. 4. 5. Menentukan strategi perencanaan pendidikan yang efektif Merumuskan kebijaksanaan dengan memperhitungkan penyesuaian tindakan dan faktor lingkungan pendidikan Menganalisis penetapan cara dan sarana pencapaian tujuan pendidikan Siapa orang yang tepat dalam menangani pelaksanaan pendidikan ? Penentuan sistem kontrol dalam pelaksanaan pendidikan ? 69
Jenis-Jenis Pokok Perencanaan Pendidikan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Menurut Waktu : Jangka Panjang, Jangka Menengah dan Jangka Pendek Menurut Sifat : Perencanaan Kuantitatif – Kapasitas Pendidikan, Perencanaan Kualitatif – Mutu Pendidikan Menurut Sektor dan Regional : Sektor – Sosial, Pendidikan, Ekonomi, Hukum, dll. Regional – Wilayah, Daerah, dll. Menurut Jangkauan : Pendidikan Makro (Umum) dan Mikro (Khusus) Menurut Wewenang : Sentralisasi/Pusat, Desentralisasi Otonomi Daerah Menurut Obyek : Rutin terus menerus dan membangun Menurut Jenjang : Pusat, Propinsi, Kabupaten, Kecamatan, dst. 70
UNSUR YANG RELEVAN DENGAN SEKTOR PENDIDIKAN 1. 2. 3. 4. Unsur Kualitatif : ditandai dengan hasil kelulusan untuk pendidikan sekolah dan kemampuan nyata untuk pendidikan di luar sekolah Inter Sektoral : sebagai pemasok kehidupan pada semua sektor kehidupan dan pembangunan Unsur Interdepartemental : Jangkauan yang lebih luas dalam bidang-bidang umum yang dikendalikan oleh Departemen dalam pemerintahan Unsur Kewilayahan : Pelaksanaan Otonomi Daerah 71
Apa yang dimaksud dengan siklus Perencanaan Pendidikan ? Siklus perencanaan pendidikan adalah proses berlangsungnya perencanaan pendidikan yang dilakukan secara berulang dan berdaur ulang. Bagaimana Siklus Perencanaan Pendidikan? Tahap 1 : Pengumpulan dan Pengolahan data informasi Tahap 2 : analisis dan diagnosis masalah pendidikan Tahap 3 : perumusan kebijakan Tahap 4 : perkiraan kebutuhan yang akan datang Tahap 5 : penentuan tujuan pendidikan Tahap 6 : Penetapan strategi pendidikan Tahap 7 : Formulasi rencana pendidikan Tahap 8 : Budget dan perencanaan sumber dana Tahap 9 : deskripsi perencanaan pendidikan Tahap 10 : Penyelenggaraan Pendidikan Tahap 11 : Evaluasi dan pengendalian perencanaan pelaksanaan pendidikan Tahap 12 : tindak lanjut kebijaksanaan melalui perencanaan pendidikan yang baru dari hasil 72 evaluasi pendidikan
Bagaimana Hubungan Demand Supply Pendidikan di Indonesia Kemampuan Harusnya supply Supply B Upaya peningkatan kemampuan B Peningkatan A A Keseimbangan sebelum melakukan upaya peningkatan Demand Jumlah Siswa 73
Apa Fungsi Diknas Dalam Pembangunan Bangsa? DIKNAS Presevasi Dinamik Partisipatoris Preparatoris Antisipatoris DIKNAS Dalam Pembangunan Nasional Pembangunan Kultur 74
PENGAMBILAN KEPUTUSAN Pengambilan keputusan adalah akhir proses panjang tentang identifikasi masalah, penetapan persyaratan pemecahan masalah, identifikasi alternatif dan penilaian strategi penyelesaian masalah (Roger Kaufman) Pengambilan keputusan merupakan proses pemilihan alternatif-alternatif (Baron, 1985) 75
Banyak penulis lainya mengemukakan bahwa pengambilan keputusan adalah ketrampilan paling penting bagi administrator pendidikan yang efektif. Pengambilan keputusan merupakan hasil utama dari semua administrasi ialah keputusan dan para pimpinan akan dinilai oleh atasan, rekan sejawatnya dan bawahanya melalui keputusan yang diambilnya. (Baird; 1985) 76
Proses keputusan adalah inti administrasi dari semua kegiatan administrasi tergantung pada pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan dapat dilihat sebagai proses yang dilakukan organisasi 77
STUDI KASUS FAKTA WKS B WKS C WKS D LK/PR PR LK UMUR 40 50 43 46 AGAMA KRISTEN ISLAM HINDU BUDHA MASA KERJA 19 25 22 24 CATATAN : PR = Perempuan. LK=Laki-Laki PENDIDIKA S 2 S 1 S 2 N S 1 78
a. Situasi yang dimaksud adalah: berhadapan dengan masalah, atau peluang. Dalam kedua situasi tersebut seorang pimpinan dituntut untuk dapat mengambil keputusan secara tepat. 79
b. Keputusan terprogram adalah keputusan yang diambil sesuai dengan program, kebijakan, prosedur, dan peraturan. Keputusan tidak terprogram adalah keputusan yang diambil dalam kondisi luar biasa, sehingga tidak tercakup dalam kebijakan atau program yang telah digariskan. 80
c. Contoh keputusan terprogram dalam bidang pendidikan: keputusan Kepala Sekolah, sesuai dengan hasil musyawarah tentang pembangunan gedung sekolah. Contoh keputusan tidak terprogram: keputusan kepala sekolah dalam pengaturan tempat dan waktu belajar, karena kondisi musibah banjir yang menimpa sekolah. 81
INDIKATOR KINERJA (Penyediaan Obat-Obatan) 1. Input (Masukan) dana, SDM, infrastruktur, peraturan, dll. Jumlah dana tersedia 2. Output (Keluaran) fisik dan non-fisik jumlah obat yang dibeli 3. Out comes (hasil) berfungsi (efek langsung) jangkauan pengobatan lebih baik 82
4. Benefits (Manfaat) tujuan akhir untuk kesembuhan pasien meningkat 5. Impacts (Dampak) pengaruh yang ditimbulkan kesehatan masyarakat meningkat 83
MODEL DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN 84
TQM Produk Proses Organisasi Kepemimpinan LIMA PILAR TOM Komitmen 85
Kelima pilar tersebut saling mendukung, bukan masing-masing berdiri sendiri secara terpisah. Adapun lima pilar TQM sebagai berikut : 1. Produk (Barang/Jasa) merupakan mata pencaharian suatu organisasi 2. Produk yang bermutu tidak akan tercapai tanpa proses kerja yang bermutu 3. Proses kerja yang bermutu tidak akan tumbuh tanpa organisasi yang dikelola dengan baik 4. Organisasi akan sia-sia tanpa kepemimpinan yang benar 5. Keempat pilar TQM tersebut diatas tidak akan seperti yang diharapkan tanpa komitmen KOMITMEN PERBAIKAN KECIL SECARA TERUS MENERUS KOMITMEN KEBUTUHAN PELANGGAN KOMITMEN TQM PERBAIKAN KECIL SECARA TERUS MENERUS KEBUTUHAN PELANGGAN KOMITMEN 86
Total Quality Manajemen/TQM Pengertian Total Quality Manajemen atau Mabajemen Kualitas Total TQM adalah pendekatan manajemen, TQM merupakan program yang berorientasi pada pelanggan dengan memperkenalkan perubahan manajemen yang sistematik dan perbaikan terus menerus terhadap proses, produk, dan pelayanan suatu organisasi, Input, Proses , Output, Keinginan, Total Kepuasan Kebutuhan, Quality Pelanggan dan Management Harapan (TQM) (www. dadangsolihin. com 18) 87
atau biasa juga disebut “Program dimana seluruh kegiatan/aktivitas perusahaan bertujuan untuk memaksimalkan kualitas dan kepuasan dari pelanggan yang dilakukan melalui perbaikan berkelanjutan. ” Di Amerika serikat pendekatan ini sering disebut program perbaikan berkelanjutan dengan nol kerusakan atau six sigma/enam sigma, yakni sebuah acuan terhadap tidak mungkin secara statstik akan adanya sebuah kerusakan. Kalau di Jepang program ini dikenal dengan nama Kanzen. (Gary Dessler, Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi 1 hal 261) 88
Prinsip-Prinsip TQM Pendekatan TQM menganut prinsip dari W. E Derming dan merupakan program seluruh organisasi yang menggabungkan semua fungsi dan proses bisnis sehingga rancagan. Perencanaan, produksi, distribusi dan pelayanan lapangan yang berfokus kepada memaksimalkan kepuasan pelanggan melalui peningkatan berkelanjutan. Jadi ide dari TQM membuat karyawan ingin meningkatkan Operasionalnya. 89
Program TQM diwarnaioleh 14 Pokok prinsip menurut W. Edwards Deming (1940) berikut ini : 1. Tentukan tujuan perusahaan dengan menggunakan dasar : inovasi dan perbaikan yang berkesinambungan. 2. Gunakan filosofi baru, yang tidak dapat menerima terjadinya kekurangan dan kesalahan yg pernah dilakukan. 3. Hentikan ketergantungan pada mass inspection, gunakan bukti-bukti statistik yang didalamnya telah tercermin kualitas. 4. Akhiri praktek pemberian penghargaan kerja berdasarkan biaya. 5. Gunakan metode statistik untuk menemukan titik permasalahan. 6. Lembagakan penggunaan metode-metode modern dalam pelatihan kerja karyawan. 7. Perbaiki pengawasan sesuai prosedur dan jangan hanya mensyaratkan kuantitas sebagai pencapaian target. 90
lanjutan 8. Usahakan agar karyawan merasa aman untuk mengungkapkan pendapatnya dan meminta informasi. 9. Hilangkan penghalang (barrier) antar departemen, dengan supplier dan customer, sehingga terbuka komunikasi yang efektif. 10. Buang poster dan slogan, karena tidak membantu memecahkan masalah. 11. Kerjakan dan tunjukan bagaimana kerja yang benar. 12. Hindarkan pembuatan standar kerja berdasarkan kuota jumlah, karena akan menurunkan kualitas, dan batasi jumlah produksi. 13. Hilangkan penghalang antara karyawan dengan hak mereka untuk bangga atas pekerjaan mereka. 13. Lembagakan pelatihan karyawan untuk mengejar perubahan dan perkembangan baru. . ” 91
Elemen-elemen TQM A. TQM Philosophy (filosofi TQM) Standar kualitas ditentukan oleh pelanggan Hubungan dengan pelanggan dan pemasok perlu, untuk proses produksi dan distribusi Program yang berorientasi pada pencegahan (zero defects) Kualitas ditentukan oleh sumber pembuatannya, sehingga pekerjalah yang harus memeriksa kualitas pekerjaannya dan hasil kerjanya Perbaikan yang terus menerus dilakukan 92
B. Elemen-elemen TQM 1). Graphical tools (alat bantu grafis) • • Alat bantu grafis digunakan untuk memantau kualitas aktivitas Jenis-jenis bagan diantaranya : process flowchart, checksheet, pareto analysis & histogram, cause & effect diagrams, dsb 2). Statistical tools (alat bantu statistik) • • Statistical Quality Control, penggunaan teknik statistik dan matematis untuk menentukan apakah material dan proses berada dalam area standar kualitas/garis pedoman standard kualitas Umumnya digunakan oleh Quality Control Department 93
Implementasi TQM proses yang sifatnya top-down Tahapan proses : 1. Putuskan untuk mengikuti TQM 2. Bangun budaya kualitas Ambil keputusan setelah mempertimbangkan berbagai aspek termasuk aspek biaya Kualitas bukan suatu pilihan, tapi kebutuhan 3. Tetapkan metoda pengawasan oleh Top Management ◦Motivasi, pengarahan, kebijakan, penyediaan resources, dsb ◦Tingkatkan komitment semua karyawan akan kualitas 94
Konsekuensi Biaya 1. Failure Cost (biaya kegagalan) Biaya yang diakibatkan mutu barang produksi yang jelek, sehingga harus di reject, recycling, adjustment, dsb. Termasuk biaya akibat kekecewaan pelanggan 2. Appraisal Cost (biaya penilaian) Biaya untuk pemeriksaan produk (quality control) 3. Prevention Cost (biaya pencegahan) Biaya untuk semua aktivitas yang ditujukan untuk mencegah adanya kecacatan (defect) 95
Makna Kualitas dalam TQM adalah totalitas tampilan dan karakteristik sebuah produksi atau pelayanan yang berhubungan dengan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan yang dicari. Atau dapat juga dikatakan Kualitas mengukur bagaimana baiknya sebuah produk atau jasa memenuhi kebutuhan pelanggannya. Pertimbangan dasar dari batasan ini adalah sejauhmana produk atau jasa itu memenuhi harapan pelanggan. 96
Penerapan Konsep TQM dalam Bidang Pendidikan 1. Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Manajemen alternatif ini memberikan kemandirian kepada sekolah untuk mengatur dirinya sendiri dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, tetapi masih tetap mengacu kepada kebijakan nasional. Konsekwensi dari pelaksanaan program ini adanya komitmen yang tinggi dari berbagai pihak yaitu orang tua/masyarakat, guru, kepala sekolah, siswa dan staf lainnya di satu sisi dan pemerintah (Depdikbud) di sisi lainnya sebagai partner dalam mencapai tujuan peningkatan mutu. Dalam rangka pelaksanaan konsep manajemen ini, strategi yang dapat dilaksanakan oleh sekolah antara lain meliputi evaluasi diri untuk menganalisa kekuatan dan 97 kelemahan sekolah.
2. Penerapan total quality management in education (TQME) pada perguruan tinggi di Indonesia harus dijalankan atas dasar pengertian dan tanggung jawab bersama untuk mengutamakan efisiensi pendidikan tinggi dan peningkatan kualitas dari proses pendidikan tinggi. Melalui penerapan TQME dalam sistem pendidikan tinggi yang dijalankan secara terus-menerus dan konsisten, maka perguruan tinggi di Indonesia akan mampu memenangkan persaingan global yang amat sangat kompetitif dan memperoleh manfaat (ekonomis maupun nonekonomis) yang dapat dipergunakan untuk pengembangan perguruan tinggi dan peningkatan kesejahteraan personel yang terlibat di perguruan tinggi itu 98
Konsep Dasar Management by Objective (MBO) atau Manajemen Berdasarkan Tujuan 1. Manajemen Berdasarkan Tujuan, adalah Manajemen yang bisa membuka potensi karyawan, yang rata-rata dapa membantu perusahaan mencapai tingkat pertumbuhan luar biasa, kira-kira 50 % pertahun antara tahun 1996 dan 2001, bahkan manajemen ini mampu memangkas frekuensi keluar masuknya karyawan menjadi seperlima dari industri pada umumnya. 2. “MBO menekankan pada penetapan sasaran secara partisipatif yang berwujud dapat diperiksa kebenarannya, dan dapat diukur, atau dapat juga dikatakan MBO ini merupakan program yang mencakup sasaran yang khas yang ditentukan secara partisipatif untuk kurun waktu tertentu yang ekspisit dengan upan balik mengenai kemajuan sasaran. ” (Sthephen P. Robbins, Perilaku Organisasi, Edisi ke Sepuluh, 262) 99
Pengertian Management by Objective (MBO) atau Manajemen berbsis sasaran Pengertian Management by Objective (MBO) atau Manajemen Berdasarkan Tujuan, adalah Manajemen yang bisa membuka potensi karyawan, yang rata-rata dapa membantu perusahaan mencapai tingkat pertumbuhan luar biasa, kira-kira 50 % pertahun antara tahun 1996 dan 2001, bahkan manajemen ini mampu memangkas frekuensi keluar masuknya karyawan menjadi seperlima dari industri pada umumnya. “MBO menekankan pada penetapan sasaran secara partisipatif yang berwujud dapat diperiksa kebenarannya, dan dapat diukur, atau dapat juga dikatakan MBO ini merupakan program yang mencakup sasaran yang khas yang ditentukan secara partisipatif untuk kurun waktu tertentu yang ekspisit dengan upan balik mengenai kemajuan-kemajuan sasaran. ”[1] ([1] Sthephen P. Robbins, Perilaku Organisasi, Edisi ke Sepuluh, 262) 100
Unsur dari Management by Objective (MBO) atau Manajemen Berdasarkan Tujuan Ø Spesifikasi sasaran. Maksudnya tujuan MBO hendaknya merupakan pernyataan ringkas mengenai pencapaian tujuan yang diharapkan, jadi tidak sekedar untuk menyatakan hasrat mengurangi biaya, memperbaiki pelayanan dan meningkatkan kualitas. Artinya kalau ada keinginan-keinginan seperti itu, harus diubah menjadi tujuan yang dapat diukur dan dievaluasi. Ø Pengambilan keputusan yang partisipatif. Tujuan dalam MBO tidaklah ditentukan secara sepihak oleh atasan yang ditujukan pada bawahan, melaainkan sasaran/tujuan dalam MBO menggantikan sasaran/tujuan yang dipaksakan dengan sasaran/tujuan yang ditentukan secara partisipatif. Artinya atasan dan bawahan bergabung bersama untuk memilih sasaran serta 101 sepakat mengenai cara mengukurnya.
lanjutan Ø Jangka waktu yang eksplisit. Setiap tujuan mempunyai kurun waktu penyelesaian yang spesifik, biasanya kurun wsaktu tersebut berkisar antara tiga bulan, enam bulan atau satu tahun. Jadi para manajer dan bawahan tidak hanya mempunyai tujuan yang spesifik tetapi juga dengan kurun waktu yang ditetapkan untuk mencapai tujuan itu. Ø Umpan balik kinerja. Adalah merupakan unsure terakhir MBO, unsur ini diperlukan karena MBO berusaha memberikan umpan balik secara trus menerus mengenai kemajuan sasaran. Dan idealnya umpan bailk ini juga diberikan pada individu sehingga meraka dapat memantau dan mengoreksi tindakan mereka sendiri. ”[1] Ø [1] Sthephen P. Robbins, Perilaku Organisasi, Edisi ke Sepuluh, 262 102
Pendekatan Management by Objective (MBO) atau Manajemen Berdasarkan Tujuan. 103
Hubungan Management by Objective (MBO) atau Manajemen Berdasarkan Tujuan dengan Teori Penetapan Sasaran Teori penetapan sasaran menunjukkan bahwa sasaran yang sulit akan menhasilkan kinerja individu yang lebih tinggi dari pada sasaran yang mudah. Selain itu sasaran yang sulit juga akan meningkatkan kinerja karyawan menjadi lebih tinggi. Disamping itu umpan balik terhadap kinerja sesorang akan menghasilkan kinerja yang lebih tinggi. ’ Sekarang coba kita bandingakan Teori ini dengan MBO. • “MBO secara langsung mendukung sasaran spesifik dan umpan baik, MBO menyiratkan secara eksplisit bahwa sasaran harus dipersiapkan sebagai hal yang dapat dilaksanakan (feasiable). ” • ]Konsisten dengan penetapan sasaran. MBO akan sangat efektif bila sasaran itu cukup sulit agar dapat menuntut orang memaksa dirinya untuk bekerja. • Adapun salah satu hal yang mungkin dapat menjadi ketidak cocokan antara MBO dengan teori penetapan sasaran adalah berkaitan dengan isu partisipasif, karena MBO mendukung hal tersebut, sedangkan teori penetapan sasaran menunjukkan bahwa penugasan sasaran ke bawahan sering sama berhasilnya • 104
105
Penerapan MBO dalam sistem Pendidikan di Indonesia Penerapan Management by Objective (MBO) atau Manajemen Berdasarkan Tujuan dalam sistem Pendidikan di Indonesia adalah dengan penerapan Desentralisasi Pendidikan Reformasi pemerintahan yang terjadi di Indonesia telah mengakibatkan terjadinya pergeseran penyelenggaraan pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi yang ditandai dengan pemberian otonomi yang luas dan nyata kepada daerah. Pemberian otonomi ini dimaksudkan untuk lebih memandirikan daerah dan memberdayakan masyarakat sehingga lebih leluasa dalam mengatur dan melaksanakan kewenangannya atas prakarsa sendiri. Pemberian otonomi yang luas dan bertanggung jawab dilaksanakan dengan berdasarkan prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan, berkeadilan, dan memperhatikan potensi serta keanekaragaan daerah, dengan titik sentral otonomi pada tingkat wilayah yang paling dekat dengan rakyat, yaitu kabupaten dan kota. 106
MANAGEMENT BY OBJECTIVE MBO 107
a. Contoh implementasi management by objectives dalam upaya peningkatan mutu pendidikan disekolah adalah: kepala Sekolah membahas dan memutuskan secara musyawarah dalam rapat guru tentang target pencapaian nialai ujian akhir nasional pada tahun tertentu. Keputusan tersebut adalah rasional dan mendapat persetujuan dari guru. Selanjutnya target tersebut menjadi acuan bagi Kepala Sekolah dan guru dalam penyusunan dan pelaksanaan program-program pendidikan dan pengajaran di sekolah. 108
b. Kelemahan Management by objectives dalam implementasinya selama ini antara lain adanya kecenderungan untuk menetapkan target yang terlalu ambisius, sehingga sukar dicapai. Atau kelemahan lain, yang rasional. 109
a. Perbedaan yang essensil antara manajemen pendidikan yang di implementasikan selama ini dengan manajemen pendekatan Manajamen Berbasis Sekolah (MBS) adalah: manajemen pendidikan yang diimplementasikan selama ini sifatnya sangat sentralistik; adapun MBS lebih memberi penekanan pada otonomi sekolah, demokratisasi, dan partisipasi masyarakat 110
b. Tiga manfaat implementasi MBS adalah: 1. Optimalisasi pengguaan sumber daya sekolah 2. Pengambilan keputusan partisipatif 3. Transparansi manjemen sekolah Atau manfaat lain yang tepat atau rasional/logis. 111
PENGAWASAN DAN SUPERVISI 112
a. Perbedaan antara pengawasan (Controling) dan supervisi (supervision) dalam bidang pendidikan: pengawasan: adalah upaya untuk mengamati dan mengkaji, sejauh mana pelaksanaan program-program pendidikan sesuai dengan perencanaan dan mencapai tujuan yang digariskan; adapun supervisi adalah upaya untuk memimpin dan menstimulir guru-guru serta petugas-petugas lain dalam rangka memperbaiki pengajaran. 113
b. Contoh implementasi dalam bidang pendidikan: pengawasan, seorang pengawas mengawasi pelaksanaan tugas guru, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; supervisi, seorang pengawas atau supervisor memberi pangarahan kepada guru tantang teknik pengajaran yang lebih efektif. Atau contoh lain yangt sesuai. 114
PENGEMBANGAN SDM PENDIDIKAN 115
PENGERTIAN PENGEMBANAGN SDM Armstrong (1997: 507) menyatakan sebagai berikut: “Pengembangan sumber daya manusia berkaitan dengan tersedianya kesempatan dan pengembangan belajar, membuat program-program training yang meliputi perencanaan, penyelenggaraan, dan evaluasi atas program -program tersebut”. Mc. Lagan dan Suhadolnik (Wilson, 1999: 10) mengatakan: “HRD is the integrated use of training and development, career development, and organisation development to improve individual and organisational effectiveness”. (Terjemahan bebas: Pengembangan SDM adalah pemanfaatan pelatihan dan pengembangan, pengembangan karir, dan pengembangan organisasi, yang terintegrasi antara satu dengan yang lain, untuk meningkatkan efektivitas individual dan organisasi).
Lanjutan. . . Mondy and Noe (1990: 270) sebagai berikut: “Human resorce development is a planned, continuous effort by management to improve employee competency levels and organizational performance through training, education, and development programs” (Terjemahan bebas: Pengembangan SDM adalah suatu usaha yang terencana dan berkelanjutan yang dilakukan oleh organisasi dalam meningkatkan kompetensi pegawai dan kinerja organisasi melalui program-program pelatihan, pendidikan, dan pengembangan). Harris and De. Simone (1999: 2) mengatakan sebagai berikut: “Human resource development can be defined as a set of systematic and planned activities designed by an organization to provide its members with necessary skills to meet current and future job demands”. (Terjemahan bebas: Pengembangan SDM dapat didefinisikan sebagai seperangkat aktivitas yang sistematis dan terencana yang dirancang oleh organisasi dalam memfasilitasi para pegawainya dengan kecakapan yang dibutuhkan untuk memenuhi tuntutan pekerjaan, baik pada saat ini maupun masa
Lanjutan. . Stewart dan Mc. Goldrick (1996: 1) mengatakan: “Human resource development encompasses activities and processes which are intended to have impact on organisational and individual learning”. (Terjemahan bebas: Pengembangan SDM meliputi berbagai kegiatan dan proses yang diarahkan pada terjadinya dampak pembelajaran, baik bagi organisasi maupun bagi individu). Drs. Iskandar Wiryokusumo M. sc. Pengembangan adalah upaya pendidikan baik formal maupun non formal yang dilaksanakan secara sadar, berencana, terarah, teratur, dan bertanggungjawab dalam rangka memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing, dan mengembangkan suatu dasar kepribadian yang seimbang, utuh dan selaras, pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan bakat, keinginan sertakemampuan-kemampuannya, sebagai bekal untuk selanjutnya atas prskarsasendiri menambah, meningkatkan dan mengembangkan dirinya, sesame, maupun lingkungannya ke arah tercapainya martabat, mutu dan kemampuanmanusiawi yang optimal dan prbadi yang mandiri
Lanjutan. . . Prof. DR. H. M. Arifin, Med, berpendapat bahwa “pengembangan apabila dikaitkan dengan pendidikan berarti suatu proses perubahan secara bertahap kearah tingkat yang berkecenderungan lebih tinggi dan meluas danmendalam yang secara menyeluruh dapat tercipta suatu kesempurnaan atau kematangan”. Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa Pengembangan SDM adalah segala aktivitas yang dilakukan oleh organisasi dalam memfasilitasi pegawai agar memiliki pengetahuan, keahlian, dan/atau sikap yang dibutuhkan dalam menangani pekerjaan saat ini atau yang akan datang. Aktivitas yang dimaksud, tidak hanya pada aspek pendidikan dan pelatihan saja, akan tetapi menyangkut aspek karir dan pengembangan organisasi. Dengan kata lain, PSDM berkaitan erat dengan upaya meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan/atau sikap anggota organisasi serta penyediaan jalur karir yang didukung oleh fleksibilitas organisasi dalam mencapai tujuan organisasi.
PENGEMBANGAN SDM PENDIDIKAN Filosofi Pendidikan Freire: pendidikan harus berorientasi kepada pengenalan realitas manusia dan dirinya sendiri Metode Horisontal (pendekatan matematis), yang mempunyai beberapa kata-kata kunci: Kongkrit, Penyelidikan dan Transformatif tumbuhkan rasa percaya diri terhadap kemampuan numerik & logika dan daya kreatifitas siswa dalam memecahkan berbagai soal sbg embrio melatih pemecahan masalah dalam perputaran roda zaman. Realita sekolah menjadi proses pembodohan, mencetak bonsai-bonsaiah kehidupan Tujuan mendasar pendidikan penggalian kepribadian, proses diri dan mental sanggup hadapi derasnya perputaran, bibit pohon besar diubah menjadi kerdil. Anak- anak didik didesain untuk diseragamkan menjadi produk massal dan kreativitas mereka tersumbat. (Komaruddin Hidayat, 2000. h. XI) Rancang pengembangan SDM Pendidikan yang tepat guna tingkatkan daya saing global bangsa Fokus kajian Pengembangan SDM Pendidikan konsep, pendekatan dan strategi pengembangan peningkatan mutu tenaga pendidik, kependidikan, pengelolaan efektif.
KONSEP PENGEMBANGAN SDM PENDIDIKAN Gary Dessler, 2004, h. 237 Pengembangan manajemen: usaha meningkatkan prestasi manajemen dengan menanamkan pengetahuan, perubahan perilaku, atau peningkatan keterampilan pengambilan keputusan. PROSES: 1) identifikasi kebutuhan strategis 2) lakukan penilaian prestasi manajer, 3) lakukan pengembangan Pengembangan SDM PENDIDIKAN usaha meningkatkan prestasi tenaga pendidik dan kependidikan dengan menanamkan pengetahuan, perubahan perilaku atau peningkatan ketrampilan sebagai aktifitas profesional guna memperbaiki sistem pendidikan berdasarkan pola yang telah dihasilkan dalam perencanaan tenaga pendidik dan kependidikan menuju taraf yang lebih baik, efektif dan terukur
PENDEKATAN PENGEMBANGAN SDM PENDIDIKAN Pendekatan INTERDISIPLIN Sosiologi, Antropologi Psikologi, Ekonomi Ipteks PENDEKATAN PENGEMBANGAN ? ? ? Pendekatan SISTEM Input-Proses. Output/Outcome Gambar : Pendekatan Pengembangan
Berbagai Pendekatan dalam Manajemen Pengembanagn SDM. 1. Pendekatan SDM, yaitu martabat dan kepentingan hidup manusia hendaknya tidak diabaikan agar kehidupan pendidik atau karyawan layak dan sejahtera. 2. Pendekatan Manajerial, yaitu manajemen personalia adalah tanggung jawab setiap manajer, jadi prestasi kerja dan kehidupan kerja setiap karyawan tergantung pada atasan langsungnya. 3. Pendekatan Sistem, yaitu suatu sistem yang terbuka dan terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan karena masing-masing saling mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungan eksternal. 4. Pendekatan Proaktif, yaitu meningkatkan kontribusinya kepada para pendidik/karyawan, manajer dan organisasi melalui antisipasinya terhadap masalah-masalah yang akan timbul.
STRATEGI PENGEMBANGAN SDM PENDIDIKAN STRATEGI * PENGEMBANGAN STRATEGI UMUM 1 Rencana Kebutuhan 2 Sikap dan Kemampuan Profesional 3 Kerjasama dunia pendidikan Gambar: Strategi Pengembangan* STRATEGI KHUSUS 1 Kesejahteraan 2 Pend. Prajabatan 3 Rekrutmen & Penempatan 4 Peningkatan mutu 5 Pengembangan karier 6. Pengembangan Kompetensi *Hirarki strategi terdiri dari Top Level (grand Strategy: Growth/development, stabilitas, penurunan), Midle level/unit bisnis ( bersaing dan tidak bersaing/ kombinasi), lower level (fungsional)
Adapun strategi pengembangan sumber daya manusia (SDM) kependidikan dapat dikembangkan melalui 2 (dua) cara, diantaranya adalah : 1. Strategi pengembangan SDM kependidikan melalui belajar a. Peningkatan kualifikasi pendidikan b. Pendidikan dan pelatihan c. Kursus d. In house training (IHT) e. Peningkatan budaya membaca f. Aktif dalam mail list 2. Strategi pengembangan SDM kependidikan melalui kepemimpinan a. Mengidentifikasi SDM b. Melakukan pemetaan kapabilitas guru c. Menganalisis kebutuhan pendidikan dan memberikan peltihan berbasis d. Memperhatikan faktor-faktor yang saling terkait dalam membagun SDM pendidikan profesional
bagaimana konsep pengembangan SDM Pendidikan yang saudara rasakan dan pahami dalam organisasi dimana saudara bekerja khususnya dan dalam organisasi pemerintahan?
PENGERTIAN PENGEMBANGAN SDM PENDIDIKAN “Pengembangan Manajemen adalah usaha untuk meningkatkan prestasi manajemen dengan menanamkan pengetahuan, perubahan perilaku, atau peningkatan keterampilan. ”(Gary Dessler : 2004) § Pengembangan merupakan suatu aktivitas profesional suatu sistem atau program instruksional berdasarkan pola yang telah dihasilkan didalam perencanaan dan memakai prosedur yang secara optimal dapat menciptakan suatu program atau sistem. § Usaha untuk meningkatkan prestasi tanaga kependidikan dengan menanmkan pengetahuan, perubahan perilaku atau peningkatan ketrampilan sebagai aktifitas profesional guna meningkatkan sistem pendidikan berdasarkan pola yang telah dihasilkan dalam perencanaan pendidikan /tenaga kependidikan menuju taraf yang lebih baik, efektif dan 127 terstruktur. §
PENDEKATAN PENGEMBANGAN PENDEKATAN INTERDISIPLIN SOSIOLOGI ANTROPOLOGI PSIKOLOGI EKONOMI IPTEKS PENDEKATAN SISTEM INPUT-PROSES OUTPUT/OUTCOME PENDEKATAN PENGEMBANGAN 128
STRATEGI PENGEMBANGAN HAR Tilaar mengemukakan bahwa pendekatan pembangunan dengan pengembangan SDM menuntut suatu strategi pengembangan pendidikan yang cocok dengan tahap pembangunan pada suatu masa tertentu. 129
STRATEGI PEMBANGUNAN STRATEGI KHUSUS STRATEGI UMUM 1. RENCANA KEBUTUHAN 2. SIKAP DAN KEMAMPUAN PROFESIONAL 3. KERJASAMA DUNIA PENDIDIKAN 1. 2. 3. 4. 5. Kesejahterahan Pend. Prajabatan Rekrutmen & Penempatan Peningkatan mutu Pengembangan karier 130
Service The Quality Model Consumer World-of-Mouth Communications Personal Needs Past Experience Service GAP 5 Perceived Service Marketer Service Delivery (including pre-and post-contacts GAP 1 GAP 4 External Communications To Customers GAP 3 Translation Perceptions into Service Quality Specs GAP 2 Management Perceptions of Consumers Expectations Source : A. Parasuraman Valarie A. Zeithaml, and Leonard L. Berry (1985) 131
The Service Quality Model Present Five “gaps” that affect and which may reduce the perceived quality of a service : Gap 1 : Between the customers expectation and management’s perceptions. Gap 2 : Between management’s perception and service quality specifications. Gap 3 : Between service quality specifications and service delivery Gap 4 : Between service delivery and external communication to customers Gap 5 : Between expected service and perceived service 132
Service Quality Model tersebut menghadirkan 5 “gap” yang mempengaruhi dan mungkin mengurangi kualitas yang dari suatu service yang dirasakan : Gap 1 : Antara harapan pelanggan dan persepsi manajemen Gap 2 : Antara persepsi manajemen dan spesifikasi-spesifikasi service quality Gap 3 : Antara spesifikasi-spesifikasi service quality dan pembelian service Gap 4 : Antara pemberian service dan komunikasi eksternal kepada para pelanggan Gap 5 : Antara service yang diharapkan dan service yang dirasakan Bagi setiap organisasi service, eksistensi dari satu atau lebih gap-gap diatas akan mempengaruhi service quality secara berlawanan. Sebuah organisasi harus mengidentifikasikan setiap gap yang ada, dan mengembangkan strategi untuk mempersempit dan menutupinya. Dengan demikian ketidakpuasan pelanggan yang potensial akan 133 diperkecil
3a75ec8c14003284438c74cd0b5d22fc.ppt